"Tidak di akhir ya nanti penggantinya [UN] tidak di akhir. Dulu kan ketika dilakukan asesmen anak sudah lulus. Kalau nanti enggak diturunkan setahun sebelumnya [untuk SMP dan SMA]. Jadi kalau kurang baik, guru masih ada kesempatan memperbaiki," tutur Totok di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan pada Kamis (12/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asesmen ini harapannya akan dilakukan secara berkala oleh guru agar bisa menjadi tolak ukur pencapaian siswa.
"Oleh karena itu sebenarnya gantinya tidak hanya di UN diganti asesmen tadi. Tidak itu saja. Proses pendidikan itu yang guru-guru harus melakukan asesmen yang sifatnya formatif, untuk perbaikan terus menerus. Jadi semangat belajar tidak ditentukan hanya di akhir," katanya.
Tes asesmen ini, kata Totok, akan berbentuk serupa dengan Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA), Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Athletic Coping Stress Inventory (ACSI) di luar negeri.
"ACSI itu salah satu bisa jadi embrionya tapi akan kita perluas juga. Termasuk survei karakter. Karakternya apa saja? Karakter yang diperlukan anak2 masa depan. Karakter pancasila, kemampuan gotong royong, kolaborasi, nasionalisme, karakter keilmiahannya, curiosity-nya," jelasnya.
"Penyelenggaraan UN tahun 2021, yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter," kata Nadiem.
Pertimbangan dari wacana ini, dikatakan Nadiem, karena UN punya banyak masalah. Beberapa di antaranya UN dianggap terlalu padat materi, sehingga murid hanya fokus menghafal. UN juga disebut banyak membuat murid stress.
Wacana ini menuai berbagai reaksi dari sejumlah pihak. Kebanyakan di antara mereka khawatir hilangnya UN akan membuat siswa jadi tidak termotivasi belajar dan lembek.
(arh/fey/arh)