Mustadi adalah warga Desa Fajar Bulan, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Dia tewas dengan luka robek dan gigitan di bagian leher dan dada kanan.
Dalam 28 hari terakhir, Mustadi menjadi korban kelima konflik harimau dengan manusia di Sumatera Selatan. Konflik harimau dan manusia ini terjadi di tiga daerah yakni Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat, serta Muara Enim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saksi sempat berusaha menolong korban, tapi ketakutan dan harimau menjauh dari lokasi penggilingan. Saksi pun lari mencari pertolongan dan warga akhirnya melapor ke kami," kata dia.
Setelah menerima laporan, kepolisian segera mengirim petugas untuk upaya evakuasi. Saat tiba di lokasi kejadian, korban sudah ditemukan tidak bernyawa.
"Kita imbau masyarakat untuk tidak berada di wilayah perlintasan harimau yang sudah dipetakan dan jangan bermalam di kebun. Jangan lagi ada yang merambah merusak hutan lindung apalagi menjadikan lahan bercocok tanam. Jangan sampai korban-korban berjatuhan lagi," kata Ferry.
Sementara Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat BKSDA Sumatera Selatan Martialis Puspito menduga kebun yang digarap oleh Mustadi berada di kawasan hutan lindung. Namun karena berkembang permukiman, status hutan lindung di desa tersebut dicabut.
"Itu masih tetap habitatnya harimau Sumatera. Bukan harimau yang menyerang warga di permukiman, namun memang warga yang diserang berada di habitat harimau. Untuk jarak dari permukiman ke kebun korban masih ditinjau oleh petugas di lapangan, namun dipastikan lokasi tersebut habitat harimau," ujar pria yang akrab disapa Ito ini.
Ito mengungkapkan, harimau yang merenggut nyawa Mustadi diduga kuat merupakan individu yang sama dengan yang menyerang Marta Rolani (24), Senin (2/12) dan menewaskan Yudiansyah Harianto (40), Kamis (5/12) di Dusun Tebat Benawa, Kelurahan Penjalang, Kecamatan Dempo Selatan, Kabupaten Pagar Alam.
Dugaan tersebut karena lokasi para korban yang diserang masih satu Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kikim Pasemah dan merupakan koridor Kantong Harimau Jambul Nanti Patah.
"Harimau agresif menyerang itu selalu ada pemantiknya. Seperti yang di Desa Pulau Panas korban sedang menebang pohon menggunakan gergaji mesin, Marta itu dia sedang meracun rumput dan mengenai harimau itu. Untuk korban terakhir ini masih kita investigasi pemantiknya apa," ujar dia.
Ito pun mengimbau kepada masyarakat di Lahat, Pagar Alam, serta Muara Enim yang berada di sekitar kawasan hutan lindung untuk waspada. Karena kawasan tersebut satu hamparan sehingga harimau yang pernah menyerang warga berpotensi masih berkeliaran di kawasan tersebut.
(idz/wis)