Ketua Harian PBNU Robikin Emhas bilang data yang didapat pihaknya menyebut pemerintah China membuat pelatihan vokasi untuk kamp Uighur di Xinjiang. Pelatihan dilakukan sekaligus merespons paham radikalisme di sana.
"Kamp itu justru dibuat untuk menjauhkan mereka (warga Uighur) dari ekstremisme dan radikalisme yang tercipta di Xinjiang. Tidak ingin warganya terpengaruh paham itu, China pun mengatasinya dengan melatih warga dengan skill di kamp vokasi tersebut," kata Robikin dalam keterangan tertulis pada Jumat (13/12) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, WSJ menerbitkan laporan terkait pemerintah China yang disebut mulai menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap ormas-ormas Islam Indonesia setelah isu Uighur kembali mencuat ke publik pada tahun 2018.
WSJ juga menyebut Beijing bahkan membiayai puluhan tokoh seperti petinggi NU dan Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), akademisi, dan sejumlah wartawan Indonesia untuk berkunjung ke Xinjiang.
[Gambas:Video CNN] (dfz/rea)