Hal itu ia sampaikan untuk merespons Hasil Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) V PPP yang meminta agar Jokowi menjaga hubungan baik dengan ulama dan umat Islam, termasuk ormas.
"Istilah lain yang lebih santun dengan istilah 'ekstrem kanan' sebagai sebuah istilah yang pernah digunakan oleh presiden Sukarno dan Soeharto," kata Tamliha kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat persoalan itu, Tamliha menyatakan sudah sepatutnya pihaknya sebagai partai berbasis agama meminta kepada Jokowi untuk memperbaiki hubungan tersebut. Hal itu bertujuan agar pelbagai program yang dirancang pemerintah dapat berjalan baik dan dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Isu radikalisme dalam agama menjadi perhatian serius pemerintah. Teranyar, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi membawa isu penangkalan radikalisme di Indonesia ke Sidang Badan Eksekutif Konferensi Menteri Agama, Wakaf, dan Urusan Islam. Forum internasional itu digelar di Amman, Yordania pada Kamis (12/12).
Zainut mengatakan dunia Islam menghadapi tantangan besar dari internal dan eksternal. Dia menyebut beberapa tantangan yaitu ancaman ekstremisme dan terorisme, serta fenomena Islamofobia.
"Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sangat serius dalam upaya penanggulangan ancaman radikalisme dan ekstremisme serta komitmen meneguhkan moderasi beragama," kata Zainut dalam keterangan tertulis pada Jumat (13/12). (ain/rzr/ain)