Perseteruan antara OSO dan Wiranto sebenarnya bukan barang baru. Keduanya sudah berkonflik sejak Hanura pecah menjadi dua kubu, yakni kubu Manhattan dan kubu Ambhara pada awal 2018 lalu.
Konflik bermula dari aksi saling pecat kader yang dilakukan Sekretaris Jendral DPP Hanura kala itu, Sarifuddin Sudding, dan OSO pada 15 Januari 2018. Kemudian, Sudding menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada 18 Januari 2018 yang menghasilkan Daryatmo sebagai Ketua Umum menggantikan Wiranto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konflik kembali memanas usai Pemilu 2019. OSO menyalahkan Wiranto atas kegagalan Hanura mendapatkan kursi di parlemen untuk periode 2019-2024.
Menjawab tudingan itu, Wiranto menyatakan dirinya adalah yang paling sedih atas kegagalan Hanura melenggang ke Senayan. Wiranto meminta semua pihak untuk introspeksi diri dan tak saling menyalahkan.
Ia pun menyebut kesalahannya adalah menunjuk OSO menjadi Ketua Umum Hanura.
Kini, tensi konflik di antara keduanya kembali meningkat. OSO sebagai Ketua Umum Hanura mengambil kebijakan mendepak Wiranto dari kursi Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. Di sisi berseberangan, Wiranto mendesak OSO untuk mengundurkan diri.
Kubu Wiranto pun mengancam akan mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) sebagai tandingan dari Munas yang mengukuhkan OSO sebagai Ketua Umum. Hanura periode 2010-2024.
Wiranto. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Kekecewaan OSO
Melihat situasi Hanura terkini, Pengamat politik dari Universitas Andalas Asrinaldi menilai konflik yang kembali terjadi itu lahir dari kekecewaan OSO yang menganggap Wiranto tidak memiliki peran signifikan sehingga Hanura gagal melenggang ke Senayan pada Pemilu 2019 lalu.
Dia juga berpendapat, langkah mendepak Wiranto dari kursi Ketua Dewan Pembina dilakukan OSO dilakukan karena Hanura sebagai pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin tidak mendapatkan alokasi kursi menteri di Kabinet Indonesia Maju.
"Hanura tidak dapat kursi kabinet, Wiranto tidak berperan signifikan dan sudah jadi Wantimpres. Peran Wiranto tidak bisa didapat OSO, sehingga ada kekecewaan," kata Asrinaldi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/1).
Meski begitu, dia menilai konflik yang terjadi di internal Hanura ini tidak akan memengaruhi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. Pasalnya, lanjut dia, Hanura sedang tidak memiliki kader yang duduk di Senayan ataupun pemerintahan saat ini. Selain itu, kata Asrinaldi, konflik Hanura ini juga tidak akan terlalu besar mengingat para loyalis Wiranto yang berada di Hanura saat ini tinggal sedikit.
"Tidak pengaruh. Kubu Wiranto sudah semakin lemah," katanya.
Menurutnya, langkah Jokowi yang tidak mendukung OSO untuk maju sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2019-2024 turut ambil bagian dalam konflik Hanura yang terjadi saat ini.
"Di pemerintahan yang saat ini berjalan, Wiranto sudah jelas, sudah jadi Ketua Wantimpres. Sementara OSO cenderung sedikit menjauh dari pemerintahan. Terlebih ketika dinamika DPD, dia (OSO) menilai tidak didukung Jokowi (sehingga) agak bagaimana dia soal itu dan ingin tetap pegang Hanura," ucap Idil.
Oesman Sapta Odang. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra) |
Ujian Bagi OSO
Senada, Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo menilai konflik di internal Hanura saat ini lahir dari kekecewan OSO terhadap Wiranto dan Jokowi.
Namun menurutnya, OSO telah melakukan blunder pada Pemilu 2019 lalu dengan memaksakan diri menjadi calon anggota DPD dan tidak serius dalam menyusun nama kader yang akan menjadi caleg.
"Betul juga. Tapi, OSO blunder dia ngotot mencalonkan diri di DPD. Lalu pas pencalonan caleg, Hanura seperti enggak serius, akhirnya calegnya sedikit," kata Kunto.
Dia menerangkan, konflik antara OSO dan Wiranto saat ini juga terkait dengan perebutan pengaruh terhadap Jokowi. Namun, Kunto menilai hal tersebut aneh mengingat Hanura tak memiliki perwakilan di Senayan dan pemerintah pusat saat ini.
"Punya partai politik itu modal penting untuk 2024 karena pertarungan bebas terbuka, siapa yang memegang pimpinan akan punya posisi tawar politik lebih besar," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
Ke depan, Kunto berpendapat, nasib Hanura akan menghadapi kesulitan di tangan OSO yang ingin merombak dari partai politik berisi kader berlatar belakang militer ke pengusaha.
Menurutnya, kemampuan OSO juga akan diuji untuk mengembalikan kejayaan Hanura di tengah bergulirnya wacana penyederhanaan partai politik lewat peningkatan ambang batas parlemen.
"Ujian besar bagi OSO dan Hanura karena akan menghadapi penyederhanaan partai politik," tuturnya.
Wiranto. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Oesman Sapta Odang. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)