Menurut Yusuf perdebatan saat ini terjadi karena muslim di Indonesia tidak bisa mendapat informasi secara utuh. Lebih baik energi difokuskan untuk mendoakan keselamatan muslim Uighur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, pendiri layanan fintech PayTren itu menegaskan tidak menutup mata terhadap kemungkinan penindasan terhadap muslim Uighur.
"Sebab jadi enggak lucu, gegara mempertahankan informasi, lalu pada berantem sendiri. Dan jadi balik lagi kayak rasa pilpres, enggak baik," Yusuf menyampaikan.
Isu pelanggaran HAM oleh pemerintah China terhadap muslim Uighur di Xinjiang kembali jadi perhatian publik setelah media Amerika Serikat Wall Street Journal menulis laporan mengenai jurus China merayu ormas Islam di Indonesia untuk bungkam soal Uighur.
WSJ dalam laporannya menyebut China berupaya membujuk sejumlah organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, media Indonesia, hingga akademisi agar tak lagi mengkritik dugaan persekusi yang diterima etnis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.
[Gambas:Video CNN]
WSJ memaparkan China mulai menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap ormas-ormas Islam tersebut setelah isu Uighur kembali mencuat ke publik pada 2018 lalu. Sejak rangkaian tur Xinjiang itu berlangsung, pandangan para pemuka agama Islam Indonesia disebut berubah.
"Kami tegaskan no money, no corruption. Kami ormas Islam tetap istiqamah, tidak akan menjual agama dengan harga sangat murah," kata Muhyiddin Junaidi dalam jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Senin (16/12). (dhf/wis)