Para tokoh tersebut antara lain Artidjo Alkostar, Syamsuddin Haris, Albertina Ho, Harjono, dan Tumpak Hatorangan Panggabean. Mereka mendatangi Istana Negara dengan senyum semringah.
Artidjo Alkostar
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artidjo menjadi hakim agung di Mahkamah Agung pada 2000 lalu. Selama hampir 20 tahun bertugas, Artidjo menangani sekitar 19.708 perkara, termasuk kasus-kasus korupsi.
Syamsuddin Haris
Merupakan peneliti senior dalam Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Puluhan buku telah ditulisnya.
Lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat pada 9 Oktober 1957. Syamsuddin ingin membantu pemerintah menegakkan pemerintahan yang bersih melalui Dewan Pengawas KPK.
"Kita ingin menegakkan pemerintah yang bersihd dengan memperkuat KPK. Bagaimana pun tanpa pemerintahan yang bersih, kita tidak bisa meningkatkan daya saing," ucap Syamsuddin di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12).
Albertina Ho
Seorang hakim wanita yang dikenal publik usai memberi vonis kepada mafia pajak Gayus Tambunan pada 2011 lalu. Kala itu, Dia memvonis Gayus tujuh tahun penjara.
Albertina telah lama berkarir di dunia peradilan. Sebelum ditunjuk menjadi anggota Dewan Pengawas KPK oleh Jokowi, dia menjabat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Harjono
Adalah Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP). Pernah juga menjabat sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi.
Harjono lahir di Nganjuk, Jawa Timur pada 31 Mareti 1948. Dia tetap suka mengkritik urusan peradilan di Indonesia meski telah pensiun.
Tumpak Hatorangan
Tumpak Hatorangan Panggabean adalah Plt Ketua KPK pada 2007-2011. Kala itu, dia menggantikan Antasari Azhar yang harus nonaktif dari jabatannya dalam kasus pembunuhan.
Lahir di Sanggau, Kalimantan Barat, pada 29 Juli 1943. Tumpak mengawali karir bidang hukum di Kejaksaan.