Robikin Emhas, Ketua Tanfidziah PBNU mengakui banyak pendapat terkait ucapan selamat Natal di antara para ulama. Ada yang melarang karena khawatir mengganggu akidah, ada yang membolehkan dengan pengertian ucapan Natal sebagai bagian dari kesadaran bermuamalah.
Muamalah adalah sebuah hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat,karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri
"Kalau berniat hanya untuk menghormati atau berempati kepada teman yang Nasrani, maka tidak masalah. Indonesia kita ini kan negara majemuk. Apalagi ucapan Natal itu dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Nabi Isa A.S. sebagai rasul," jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (22/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menerapkan batasan ini, menurut Robikin momen Natal bisa menjadi ajang untuk mempererat dan mengikat kembali tali kebangsaan kita.
[Gambas:Video CNN]
Kemarin (21/12), Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur (Jatim) meminta umat Muslim untuk tidak mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Namun, imbauan tersebut tak berlaku untuk Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
Menurut Sekretaris MUI Jatim, Mochammad Yunus, ucapan selamat Natal atau selamat hari besar agama lain bisa merusak akidah Islam karena membenarkan ajaran agama lain.
Padahal sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi (19/12) sempat menyebut kalau ucapan selamat merayakan hari Natal kepada umat Kristen dan Katolik tidak akan mengganggu akidah seorang muslim. (eks)