Natal, Muslim dan Cerita Damai dari Kampung Sawah

CNN Indonesia | Rabu, 25/12/2019 11:15 WIB
Kampung Sawah di Kota Bekasi menjadi wujud persaudaraan antara umat Nasrani dan Islam yang sudah terjalin lebih dari seabad. Perayaan Natal di Gereja Katolik Santo Servatinus, Kampung Sawah, Kota Bekasi. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jalanan di Kampung Sawah, Kota Bekasi, masih basah karena diguyur hujan semalaman. Rintik gerimis mengiringi langkah kaki umat Katolik di Kampung Sawah menuju ke Gereja Katolik Santo Servatius.

Warga Katolik di Kampung Sawah sedang bersuka cita. Hari ini mereka merayakan kelahiran Yesus Kristus, dalam Misa Natal di gereja yang lebih dikenal dengan Gereja Kampung Sawah.

Di depan gereja, beberapa warga Muslim telah berjaga. Mereka menyambut saudara mereka yang beragama Katolik dengan senyum dan ucapan selamat Natal. Mereka pun membantu mengatur lalu lintas dan parkir kendaraan para jemaat.

Kampung Sawah terkenal dengan kisah toleransi mereka. Tiga rumah ibadah dari tiga agama berbeda berdiri berdampingan. Gereja Katolik Servatius, Gereja Kristen Pasundan, dan Masjid Agung Al-Jauhar Fisabilillah berdiri dengan jarak hanya sepelemparan batu.


Tiga kelompok agama hidup berdampingan di Kampung Sawah sejak abad ke-19. Mereka saling bekerja sama dan menjaga dalam kehidupan keseharian maupun perayaan hari besar religi.

Salah seorang tokoh Kampung Sawah yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Paroki Kampung Sawah Gereja Santo Servatius, Matheus Nalih Ungin, menyampaikan kedamaian antaragama terbentuk karena mereka hidup bersaudara sebagai bagian keluarga Betawi Ora.

Misa Natal di Gereja Kampung Sawah.Misa Natal di Gereja Kampung Sawah, Kota Bekasi. (Foto: CNN Indonesia/Dhio Faiz).

Dalam sejarahnya, umat Islam, Kristen, dan Katolik saling bekerja sama di persawahan dan perkebunan. Kehidupan gotong royong itu jadi kunci menjaga kerukunan antarumat beragama di Kampung Sawah.

"Dalam konsep-konsep kerja bersama itu memang tidak pernah memilih saya butuh yang Muslim, yang Kristen, Katolik, enggak. Semua yang bisa berperan proses gotong royong itu silakan terlibat. Dari situ berkembang menjadi tatanan kehidupan yang lebih maju hingga saat ini," kata Nalih saat ditemui CNNIndonesia.com di Gereja Servatius, Bekasi, Rabu (25/12).

Jika ada perayaan hari besar keagamaan, Nalih mengatakan umat yang berbeda iman tak segan untuk terlibat. Misalnya saat Idul Fitri, umat Kristiani bertugas menjadi pihak keamanan dan pengatur lalu lintas. Lahan gereja pun direlakan untuk menampung kendaraan umat Muslim.

Denyut Toleransi dari Pinggir Ibu KotaMisa Natal di Gereja Kampung Sawah, Kota Bekasi. (Foto: CNN Indonesia/Dhio Faiz)

Begitu pula seperti perayaan Natal saat ini. Umat Kristiani dipersilakan menggunakan lahan parkir di masjid.

"Di depan itu ada parkir-parkir yang disediakan warga. Kalau mobil bisa di Yayasan Fisabilillah. Kita berjalan saja karena sudah terbiasa dan saling membutuhkan," tuturnya.

Wujud toleransi tidak terbatas pada urusan ibadah. Nalih menuturkan para pimpinan umat beragama di Kampung Sawah rutin melakukan pertemuan membahas segala persoalan demi keberlangsungan masyarakat setempat.

Bahkan, kata Nalih, mereka saling menjaga dari gerakan yang mencoba menyulut intoleransi. Para pemimpin agama bahkan sering kali menegur pendakwah-pendakwah yang coba mengganggu kerukunan mereka.

[Gambas:Video CNN]

"Saya bersyukur kyai-kyai di sini toleran. Bahkan kalau ada penceramah yang mulai intoleransi, langsung disuruh turun (oleh kyai) dan besoknya tidak dipakai lagi," ucap dia. (dhf/asa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK