FOTO: Damai Para Penyintas Korban Terorisme

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Jumat, 27/12/2019 15:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Proses menjadi penyintas korban aksi terorisme bukan cepat dan mudah. Namun pada akhirnya mereka bisa berdamai dengan dendam dan sakit hati.

Dwi Siti Rhomdoni atau Dwiki mengalami patah tulang leher saat teror Bom Thamrin pada 14 Januari 2016. Dwiki kini aktif sebagai pengurus di jaringan yang mewadahi para korban teroris di Indonesia. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Wartini sedang hamil tua anak ketiga saat suaminya, Syahromi, satpam Kedubes Australia meninggal setelah berjuang menyembuhkan luka pascabom Kuningan, Jakarta, 9 September 2004. Sempat depresi, Wartini kini mengikhlaskan sambil membesarkan tiga buah hatinya. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jihan Thalib harus meninggalkan pendidikan tinggi dan kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga akibat Bom Kampung Melayu, 24 Mei 2017. Ia akhirnya lekas bangkit demi keluarganya juga. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Aiptu Ram Mahdi Maulana masih harus menggunakan penyanggah kepala hingga kini akibat luka bagian dalam di kepala yang disebabkan teror bom di depan Kedubes Australia, 9 September 2004. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Ipda Denny Mahieu terkena teror bom di pos polisi Thamrin saat akan melapor lewat radio panggil soal ledakan di kedai kopi di seberangnya, 14 Januari 2016. Denny tak lama bernestapa diri, bahkan ia memeluk terpidana terorisme Aman Abdurrahman saat menjadi saksi dalam persidangan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Korban Bom Bali II pada 2005 silam, Ni Kadek Ardani mengaku selalu trauma saat mendengarkan suara seperti ledakan. Pecahan logam terakhir dari ledakan bom baru diangkat dari tubuhnya dengan bantuan LPSK pada Agustus 2019. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)
Ni Luh Erniati kehilangan suaminya dalam teror Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Ia kini menjadi seperti 'ibu' bagi para korban-keluarga korban teror di Bali sebagai Ketua Isana Dewata. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)
I Wayan Sudiana mencoba menghilangkan nestapa kehilangan istri, Widayati, akibat Bom Bali I, 12 Oktober 2002, demi dua anaknya. Ia pun turut merintis wadah bagi para korban dan keluarga korban teror di Bali, Isana Dewata. (CNN Indonesia/Ryan Hadi Suhendra)


ARTIKEL TERKAIT