Muslim menjelaskan warga seharusnya menyediakan lahan resapan di rumah masing-masing untuk menahan air. Air hujan harus ditahan di rumah mereka hingga terserap ke dalam tanah.
"Itulah yang dibilang Gubernur Anies naturalisasi: tangkap, gunakan, resapkan, sisanya baru buang. Tangkap hujan, gunakan air hujan, resapkan air hujan, sisanya baru buang. Itu namanya naturalisasi, itu," kata dalam diskusi di posko pengungsian Bidara Cina, Jakarta, Sabtu (4/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Menguak Mitos Banjir 5 Tahunan Jakarta |
Berdasarkan pendapat Muslim, solusi mengatasi banjir di Jakarta adalah mengurangi debit air di sungai. Sehingga konsep naturalisasi ini harus diterapkan dari hulu hingga hilir.
"Siapa yang bisa memerintahkan tangkap hujan itu? Tadi sudah jelaskan tugas siapa, tugas siapa itu? Bukan tugas Pak Anies, pusatl ah. Pemerintah pusat, Bos. Presiden," lanjutnya.
Muslim sempat menyombongkan konsepnya itu bisa membebaskan Jakarta dari banjir hanya dalam waktu enam bulan. Namun klaim itu dikuliti Wakil Ketua Komisi II DPR RI Arwani Tomafi.
"Selama kepemimpinan ini apa yang sudah dilakukan?" tanya Arwani.
Diketahui, Anies memang punya pendekatan berbeda dalam menangani banjir di Jakarta. Jika pemerintah pusat mengusung normalisasi sungai, Anies memilih naturalisasi sungai.
Konsep naturalisasi sungai Anies adalah merevitalisasi sungai tanpa penggusuran, namun hanya menggeser warga.
Lewat naturalisasi, Anies mengenalkan konsep pengembangan ruang terbuka hijau dengan tetap memperhatikan kapasitas tampungan untuk mengendalikan banjir.
[Gambas:Video CNN]
(dhf/asa)