Menurutnya, Indonesia memahami latar belakang China mengklaim perairan Natuna Utara sebagai bagian dari kedaulatannya.
"Kita juga jangan membuat dia (China) malu mundur. Makanya kan kemarin saya sampaikan, kita harus ngerti perilakunya," ujar Achmad di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan situasi itu, Achmad menilai harus di manajemen dengan baik. Dia mengaku bekerjasama dengan Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi agar tidak ada pihak yang dipermalukan dalam penyelesaian persoalan di perairan Natuna Utara.
Lebih lanjut, Achmad mengklaim Indonesia dan China tidak dalam keadaan konflik. Sehingga, dia menyebut tidak ada eskalasi menuju perang antara Indonesia dengan China.
Ilustrasi Bakamla. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Adapun terkait aturan pelibatan Bakamla, dia menjelaskan pihaknya adalah satuan kendali dari Presiden ke satuan operasional. Semangat dari pelibatan itu, dia menyebut untuk mencegah terjadinya konflik.
"Makanya beliau (Presiden Joko Widodo) bilang tidak ada tawar menawar, tidak ada kompromi masalah kedaulatan dan hak berdaulat di sana tidak akan diskusi. Tetapi lakukan tindakan terukur," ujar dia.
"Nah terukur ini jangan terjadi miskalkulasi yang akan menjadi eskalasi tidak ada kendali. Justru akan mengganggu hubungan baik kedua negara," ujar Achmad.
Achmad membantah Indonesia tidak mengambil tindakan tegas berupa penangkapan terhadap kapal China yang masuk ke dalam perairan Natuna. Dia berkata Indonesia tidak bisa menangkap kapal China karena ada klaim dari China atas kawasan tersebut.
"Bukan tidak melakukan penangkapan. Karena begini, yang tadi saya sudah sampaikan ya, walaupun secara formal kita tidak melakukan itu, tapi faktanya dia punya klaim di situ dan beririsan dengan [wilayah] kita," ujar Achmad.
Oleh karena itu, dia berkata Bakamla dengan Menlu perlu menyusun strategi dalam menyelesaikan persoalan itu. Misalnya, Bakamla menambah kekuatan jika China menambah kekuatan di perairan Natuna saat proses diplomasi berlangsung.
"Karena diplomasi tanpa kekuatan itu juga kurang bagus. Kekuatan tanpa diplomasi juga tidak jelas. Makanya bagaimana kita memanajemen itu. Makanya tiap pagi saya laporan ke Bu Menlu 'begini bu', beliau yang menganalisis," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (jps/arh)
Ilustrasi Bakamla. (