Ketiga kecamatan tersebut terdiri dari Galesong, Galesong Utara, dan Galesong Selatan. Akibat abrasi ini, sejumlah fasilitas umum seperti tanggul, jalan desa, dan lahan pekuburan rusak.
Ombak juga menggerus pasir dan tanah sehingga rumah-rumah warga kini sangat dekat dengan bibir pantai, hanya tersisa jarak sekitar dua meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sore, hujan, angin kencang, ombak tinggi, bikin takut. Kalau malam sudah tidak bisa tidur," tutur warga bernama Jamatia Daeng Lu'mu itu.
"Ombak tinggi, angin juga kencang. Bikin takut-takut," ujarnya.
"Abrasi ini terjadi karena kegiatan tambang pasir di tengah laut tahun lalu. Ada beberapa perusahaan yang menjanjikan akan memberikan dana kompensasi buat pembangunan bronjong, tapi itu belum ada hingga kini," kata Rustam.
Tindakan sementara yang dilakukan saat ini, katanya, adalah mengamankan pinggir pantai dengan tumpukan karung pasir.
"Kita dari Pemerintah Desa memberikan 250 karung. Selebihnya karung dari kepala-kepala dusun. Ini hanya tindakan sementara sambil kita berpikir bagaimana mendatangkan batu gajah," ujarnya.
Namun, koordinator Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP), Muhaemin Arsenia, abrasi kian parah karena kegiatan tambang pasir sejumlah perusahaan yang menyuplai mega proyek di Makassar, yakni Center Poin of Indonesia (CPI) dan Makassar New Port (MNP). Total pasir dikeruk di laut Takalar untuk kedua proyek itu sebanyak 23 juta kubik.
"Yang mendesak untuk dilakukan pemerintah saat ini adalah moratorium izin penambangan pasir, lakukan evaluasi untuk mencari siapa yang paling bertanggung jawab, dan melakukan pemulihan antara lain dengan rekayasa teknis seperti membangun tanggul dan pemecah ombak," katanya. (svh/has)