Tawuran SMA di Pasar Minggu: Dipicu Ejekan, Berujung Bacokan

CNN Indonesia | Selasa, 21/01/2020 14:18 WIB
Tawuran SMA di Pasar Minggu: Dipicu Ejekan, Berujung Bacokan Ilustrasi. Polisi meringkus seorang pelajar berinisial MRF alias Joni terkait aksi tawuran yang terjadi di Jalan Pekayon I, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (17/1). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi meringkus seorang pelajar berinisial MRF alias Joni terkait aksi tawuran yang terjadi di Jalan Pekayon I, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (17/1).

Dalam aksi tawuran itu, diketahui seorang siswa SMK Wisata Indonesia berinisial RPM menjadi korban dan mengalami luka bacok.

"Penangkapan, hari Senin, 20 Januari 2020 sekitar jam 15.00 WIB di SMAN 60, Bangka, Jakarta Selatan," kata Kapolsek Pasar Minggu Kompol Prayitno saat dikonfirmasi, Selasa (21/1).

Penangkapan MRF bermula dari laporan tentang aksi tawuran yang terjadi Jumat (17/1) lalu sekitar pukul 20.30 WIB. Polisi lantas mendatangi lokasi dan menemukan korban dalam keadaan bersimbah darah.

Disampaikan Prayitno, pihaknya melakukan penyelidikan dengan mencari saksi dari teman-teman korban. Hasilnya, diperoleh informasi bahwa yang terlibat tawuran merupakan pelajar SMA.

[Gambas:Video CNN]
"Tawuran antara SMA 55 Duren Tiga (kelompok Petrol) melawan SMA 60 Bangka (kelompok Pyscho) yang bergabung dengan SMK Bhayangkari Ragunan (RED ZON)," tutur Prayitno.

Dari hasil keterangan saksi dan rekaman CCTV, polisi kemudian mengetahui identitas pelaku. Pada Minggu (19/1), polisi sempat mendatangi lokasi tempat pelaku biasa berkumpul, namun hasilnya nihil.

Pihaknya lalu berkoordinasi dengan SMA 60 Bangka tempat pelaku bersekolah dan menangkap pelaku pada Senin (20/1).

"Saat dilakukan interogasi di sekolah, pelaku mengakui bahwa telah membacok korban dengan menggunakan celurit," ujarnya.

Dikatakan Prayitno, pelaku kemudian dibawa ke Polsek Pasar Minggu untuk diperiksa lebih lanjut. Selain itu, pihaknya juga tengah mendalami kemungkinan pelaku lain.

Dari hasil pemeriksaan sementara, kata Prayitno, pelaku mengaku melakukan aksinya lantaran merasa kesal karena sekolahnya sering diejek.

"Pelaku merasa kesal karena nama sekolahnya sering diejek sehingga terjadi tawuran dan melakukan pengeroyokan terhadap korban," kata Prayitno.




(dis/arh)