Ali menyebut China sengaja menyulap karang-karang di perairan Laut China Selatan menjadi pulau buatan (artificial island) untuk markas militer.
"Dibangun hingga seperti kota. Itu dibangun jadi pangkalan militer. Ini mungkin bisa saja keinginan China itu jadikan garis pangkal, meski itu bertentangan dengan hukum laut internasional," kata Ali saat menghadiri diskusi di KAHMI Center, Jakarta, Jumat (24/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ali menyatakan pihaknya sudah memantau pulau buatan itu melalui satelit. Ia pun turut menyebut bahwa kapal coast guard China turut bermarkas di pulau buatan tersebut.
"Mereka bangun itu hanya 2-3 tahun. Gerak cepat. Padahal itu [pulau] dari karang mereka bisa bangun 3 ribu meter. Itu semua pesawat bisa mendarat di situ. Dari bomber, fighter, kargo," kata dia.
Ali menyatakan pihaknya tetap berkomitmen untuk menjaga kedaulatan perairan laut Indonesia. Ia menyatakan seluruh unsur alutsista dan aparat maritim lainnya akan melakukan operasi secara maksimal di wilayah perbatasan maritim Indonesia.
Termasuk Natuna. Pula, wilayah perairan lain yang berbatasan dengan negara lain.
"Di perbatasan laut disini ada Timor Leste, Thailand, Malaysia, China, Vietnam, Filipina, dan lainnya, Jadi cukup rumit menjaga perbatasan di laut," kata dia.
Indonesia dan China sempat memanas di perairan Natuna Utara. Kapal-kapal China menangkap ikan di perairan tersebut dan dikawal oleh kapal coast guard.
TNI berulang kali mengusir kapal-kapal tersebut. Namun, kapal-kapal China kembali datang ke Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna. Bahkan kapal TNI sempat mendapati kapal nelayan China tengah menebar jaring ikan.