PSI soal Gibran-Bobby: Bukan Dinasti Politik Jika Konvensi

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 15:09 WIB
PSI soal Gibran-Bobby: Bukan Dinasti Politik Jika Konvensi Kandidat bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membantah mengingkari prinsip menolak politik dinasti jika jadi mengusung anak dan menantu Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution pada Pilkada Serentak 2020. 

Gibran telah menyatakan keinginan maju di pemilihan wali kota Solo. Sementara Bobby mendeklarasikan diri maju sebagai kandidat pemilihan wali kota Medan.

Wakil Sekjen PSI Satia Chandra Wiguna mengatakan partainya mengadakan konvensi calon kepala daerah. Dengan itu dia mengklaim PSI mengusung calon kepala daerah berdasarkan kemampuannya, bukan latar belakang keluarga.


"Dinasti politik itu terjadi ketika tidak ada proses seleksi. Di PSI kan ada proses itu, hanya kita menyerahkan ke semua panitia seleksi. Jadi kalau misalkan dibilang bahwa kita menolak dinasti, iya kalau tidak ada proses," kata Chandra saat ditemui di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (29/1).

Chandra mencontohkan kasus anak Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Siti Nur Azizah. Siti harus melalui konvensi terlebih dulu sebelum mendapat dukungan PSI di pemilihan wali kota Tangerang Selatan.

Untuk kasus Bobby dan Gibran, Chandra bilang PSI belum menentukan sikap. Sebab keduanya tidak mendaftarkan diri dalam konvensi yang diselenggarakan oleh PSI.

"Entah itu anak presiden, anak pejabat, tapi kan ada proses proses tahapan itu. Selagi mereka belum mendaftar ke PSI, kita anggap belum," tuturnya.

Posisi PSI dipertanyakan banyak pihak. Sebab sejak awal berdiri, PSI tegas menolak politik dinasti. Dalam situs resmi mereka, Sekjen PSI Raja Juli Antoni menyebut politik dinasti mengingkari demokrasi.

"Justru sebenarnya kan inti dari demokrasi itu kan memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat dari latar belakang apa pun, apakah dia dari kalangan elite atau rakyat biasa supaya bisa berpartisipasi baik sebagai pemilih maupun orang yang dipilih. Dengan lahirnya politik dinasti itu justru mengingkari makna demokrasi itu sendiri," kata Antoni pada 23 Juni 2015 seperti dikutip CNNIndonesia.com dari situs psi.id pada Rabu (29/1).

Namun pada pertengahan tahun lalu, Antoni menyebut partainya siap mendukung anak Presiden Jokowi di Solo. Sebab mereka memiliki satu kursi di DPRD Solo.

"Jadi PSI pasti akan mendukung, di Solo kami punya kursi. Apabila nanti pada saatnya melalui mekanisme, kalau salah seorang itu maju, PSI pasti akan dukung," kata Antoni di Kantor PBNU, Jakarta, pada 27 Juli 2019. (dhf/wis)