Mereka berharap pemerintah bisa mencegah itu masuk ke Indonesia dan memberikan pengobatan gratis jikapun wabah melanda.
Supini (60), penjual jamu gendong di Pasar Mampang, Jakarta Selatan, mengaku tak tahu gejala, cara pencegahan, maupun cara penularan Virus Corona. Namun, ia mengetahui bahwa virus itu belum ada obatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Supini, penjual Jamu Gendong. (CNN Indonesia/Melani Putri) |
"Ya belum tahu gimana cara mencegahnya, saya paling jaga kebersihan aja," ia menambahkan.
"Mau lihat berita tapi HP saya jadul. Paling dengar dari temen-temen pedagang juga," ujarnya, sambil mencuci gelas bekas pembeli.
Senada, Muhamad Sukri (30), pedagang buah, mengaku tidak mendapat sosialisasi soal Virus Corona. Ia pun tidak memiliki persiapan khusus untuk mencegah penyebaran virus itu.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Pedagang buah di Tanah Abang, Muhammad Sukri. (CNN Indonesia/Melani Putri) |
Dua nama terakhir hanya menyebutkan soal muasal virus dari China dan sifat penyakit yang menular. Sumaryono bahkan menyebut penyakit itu sudah masuk ke Indonesia.
"Saya enggak tahu nama virusnya apa. Cuman katanya ada penyakit dari China yang menular dan sudah masuk Indonesia," kata Sumaryono, sambil memarkirkan motornya.
Tukang ojek di Tanah Abang, Sumaryono. (CNN Indonesia/Melani Putri) |
Supini juga mengaku was-was soal Virus Corona dan meminta pemerintah segera mencari tahu soal vaksinnya. Ia mengaku akan terbebani jika terjangkit biaya itu, terutama dalam hal biaya pengobatannya.
"Supaya cepet deh pemerintah dan lembaga kesehatan menemukan vaksinnya. Saya juga kan belum tentu sanggup membayar kalau harus dirawat di rumah sakit," ucapnya.
Tak beda, Sukri dan Iwan Sarif sudah memprediksi akan kesulitan membayar biaya pengobatan penyakit yang menyerang saluran pernafasan itu.
"Saya enggak terlalu tahu tentang Corona-Corona. Tolong aja lah pemerintah memantau jangan sampai ada yang masuk ke Indonesia. Kalau rakyat kecil seperti kami kan mana bisa menanggung biaya perawatan," aku Iwan.
Iwan Sarif, pedagang minuman di Tanah Abang. (CNN Indonesia/Melani Putri) |
[Gambas:Video CNN]
Terlebih, Sumaryono bukan peserta asuransi BPJS Kesehatan.
"Saya takut, tentu saja; usia sudah mau setengah abad. Kan jadi lebih gampang kena penyakit, apalagi saya juga enggak pakai BPJS," katanya.
Jika saja virus itu masuk ke Indonesia dan menjadi wabah, Suci berharap pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan gratis.
"Jangan sampai deh itu virus dari China masuk ke Indonesia. Kalau ntar masuk juga pemerintah kalau bisa bikin rumah sakit gratis buat pengobatannya," tandas dia.
Berdasarkan keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), periode inkubasi patogen Corona berkisar antara 2-10 hari. Setelah itu, muncul gejala-gejala seperti demam tinggi, batuk, sesak napas, dan gangguan pernapasan akut.
Lihat juga:Virus Corona dan Kegagapan Pemerintah |
Pemerintah RI sendiri sudah memulangkan 285 warga negara Indonesia (WNI) dan mengobservasinya di Natuna, Kepulauan Riau. Dari jumlah itu, 238 di antaranya adalah WNI yang dijemput dari Wuhan, China, 48 orang tim penjemput dan kru Batik Air.
Kementerian Kesehatan menyatakan virus itu belum masuk ke Indonesia. Dari 42 orang yang diperiksa di berbagai daerah karena sempat mengalami gejala-gejala mirip Virus Corona. Hasilnya, 40 orang tak terinfeksi Virus Corona dan 2 orang masih menjalani pemeriksaan.
(mel/arh)
Supini, penjual Jamu Gendong. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Foto: CNN Indonesia/Fajrian
Pedagang buah di Tanah Abang, Muhammad Sukri. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Tukang ojek di Tanah Abang, Sumaryono. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Iwan Sarif, pedagang minuman di Tanah Abang. (CNN Indonesia/Melani Putri)