KRI Soeharso, RS Terapung untuk Evakuasi WNI Kapal Pesiar

CNN Indonesia | Jumat, 21/02/2020 17:45 WIB
KRI Soeharso, RS Terapung untuk Evakuasi WNI Kapal Pesiar KRI dr Soeharso akan jadi opsi penjemputan WNI dari kapal pesiar di Jepang. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kesehatan menyebut ada dua opsi untuk mengevakuasi 74 warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai kru di kapal pesiar Diamond Princess, Jepang, terkait Virus Corona.

Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto merinci opsi pemulangan itu terdiri dari jalur laut dan jalur udara.

Pertama, opsi jalur laut menggunakan kapal Rumah Sakit (RS) KRI dr. Soeharso. Achmad menjelaskan kepulangan WNI dengan KRS Soeharso membutuhkan waktu setidaknya 14 hari untuk penjemputan dan 14 hari untuk kembali ke Indonesia.


Dengan demikian, opsi penjemputan ini sudah mencakup masa observasi. Artinya, para WNI itu tak perlu diobservasi di dalam negeri.

"Dengan KRS Soeharso penjemputan ke perairan Jepang butuh waktu 14 hari, sementara itu mereka juga diobservasi di Jepang, kemudian pindah observasinya ke KRS Soeharso, sehingga ketika tiba di Indonesia tidak perlu lagi observasi karena sudah 28 hari, sudah clear" jelasnya, di Jakarta, Jumat (21/2).

Opsi ini, kata dia, muncul karena KRS ini memiliki ruang perawatan intensif (ICU) dan 150 tempat tidur pasien.

"Kita pakai KRS Soeharso, ada delapan ruang ICU, ada 5 ruang operasi, dan lebih dari 150 tempat tidur. Jadi sama saja seperti rumah sakit, fasilitasnya memadai untuk dilakukan observasi," katanya.

Opsi kedua, pemulangan menggunakan pesawat miliki TNI-AU. Jika opsi ini diambil, Achmad menyebut perlu ada masa observasi di Indonesia selama 28 hari. Pihaknya mengklaim sudah menyiapkan tempat observasi yang masih dirahasiakan.

[Gambas:Video CNN]
"Pokoknya sudah ada beberapa opsi tempat," tegasnya.

Selain itu pula, kepulangan WNI dari Kapal Pesiar Diamond Princess membutuhkan penanganan khusus karena diduga virus telah mengalami mutasi genetik. Dampaknya, pasien tidak menunjukkan gejala seperti demam tinggi, flu dan batuk, meski hasil tesnya positif Virus Corona.

Meski demikian, Kemenkes mengimbau warga untuk tidak panik, sebab nantinya akan dikerahkan petugas kesehatan yang ahli menangani penyakit infeksi.

Sementara itu Presiden Jokowi mengaku belum memutuskan opsi mana yang diambil.

"Apakah nanti dievakuasi dengan kapal, rumah sakit langsung, atau evakuasi dengan pesawat, ini belum diputuskan. Saya kira secepatnya [diputuskan]," katanya, di Kabupaten Pelalawan, Riau, seperti dikutip dari keterangan pers presiden, Jumat (21/2).

"Rumah sakit juga kita siapkan, tapi urusan yang berkaitan dengan tempat belum diputuskan," ujar Jokowi

Selain itu, pihaknya juga masih menanti hasil negosiasi dengan Pemerintah Jepang.

"Ini juga masih proses diplomasi Indonesia dan Jepang, untuk kita minta ini, minta ini, tapi di sana masih belum menjawabnya. Kita harapkan ada sebuah keputusan sehingga bisa langsung memutuskan," jelasnya.

Saat ini ada 74 dari 78 WNI kru kapal pesiar yang negatif Virus Corona. Sementara empat orang lainnya telah dinyatakan positif virus, sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit Jepang.

(mel/psp/arh)