"Ketika kelas satu SD anak-anak diajarkan [belajar dengan] membaca dan sebagainya. Itu anak-anak tidak bisa melakukan," tutur Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Awaluddin Tjalla di Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awaluddin menilai persoalan literasi di daerah tertinggal bukan hanya perkara minat membaca anak. Dia kembali menekankan pentingnya juga buku yang masih kurang. Menyiasati itu, kata dia, Kemendikbud mengajak Pemerintah Australia untuk mencari solusi agar siswa di daerah tidak sering tinggal kelas.
"Terlihat bahwa di Sumatera Barat, misalnya, itu meningkatkan literasi. Memudahkan anak-anak mengikuti pelajaran kelas satu, dua dan tiga," tuturnya.
Selain itu guru juga membantu siswa mengerti bahan pelajaran dengan menggunakan bahasa daerah. Dari situ, diharapkan siswa tidak lagi kesulitan mengikuti pelajaran.
Perkara payung hukum, menurut Awaluddin juga perlu diperhatikan. Ia menyebut implementasi UU No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan perlu diperbaiki. Penilaian ini berkaca pada penerbitan buku-buku yang materinya tak sesuai Pancasila dan berbau radikalisme.
Sedangkan soal kurikulum yang diminta Nadiem untuk dikembangkan, Awaluddin mengatakan pihaknya sudah ada gambaran konsep.
[Gambas:Video CNN]
Kurikulum bakal disusun agar siswa bisa beradaptasi di dunia kerja dan kemajuan masa depan. Namun ia belum memaparkan implementasi konkret dari hal tersebut.
Awaluddin hanya menjawab bahwa Kemendikbud dengan menggelar studi banding kurikulum negara lain seperti Australia, Finlandia dan Korea Selatan.
"Itu memang dijadikan acuan, tapi dalam perkembangan kurikulum kita mengacu pada Pancasila," ujar dia. (fey/wis)