Hal itu karena para pelajar memilih meninggalkan kuliah usai kasus rasisme di Surabaya, Jawa Timur beberapa bulan lalu. Karena sudah lama tidak mengikuti kuliah, banyak kampus yang menolak mereka kembali.
"Beberapa sekolah yang sudah ditinggalkan banyak yang tidak mau menerima karena tidak ikuti pelajaran sehingga terancam dropout. Ini kekhususan dan ini kami minta kepada Mendikbud agar mereka dapat diterima ke sekolah masing-masing," kata Tito dalam Rapat Kerja Komisi II DPR RI dengan Kemendagri di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerja sama Pemda MRP, DPRP, mendata mana yang mau kembali dan tidak mau kembali, termasuk komunikasikan dengan Kemendikbud untuk instruksikan ke sekolah anak-anak tersebut," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, pada 16-17 Agustus 2019, terjadi aksi rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya. Seorang pria terlihat mencemooh para mahasiswa yang berada di asrama mahasiswa Papua.
Kejadian itu juga memicu eksodus besar-besaran ratusan mahasiswa Papua dari berbagai daerah. Banyak dari mereka yang secara mandiri pulang ke Papua, namun tak sedikit juga yang difasilitasi Pemprov Papua. (dhf/osc)