Seorang pria bertelanjang dada dengan celana pendek tengah duduk sendirian di depan rumah kecil dalam gang tersebut. Segelas kopi hitam di samping kanannya sudah mau habis.
"Baru bangun, habis bersih-bersih jalanan sama warga dari kemarin sore, sampai hampir tengah malam," kata pria bernama Awi itu, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain di RT 12, beberapa RT lainnya di RW 8 juga terdampak musibah tersebut.
Lihat juga:Bentuk Pansus Banjir, DPRD DKI Panggil Anies |
"Saya mengungsi dengan istri dan anak yang paling kecil ke Mesjid, tapi saat itu mati lampu, jadi saya bawa mereka ke rumah anak pertama, di Rawamangun. Saya balik lagi, sekalian jaga rumah," kata dia.
Rumah ibadah yang dimaksud Awi adalah Masjid Jami Ittihadul Ikhwan. Letaknya tidak jauh dari rumah Awi.
Masjid tersebut memang salah satu titik pengungsian warga korban banjir. Hingga Rabu (26/2) pagi, masjid itu masih dipadati warga pengungsi banjir. Mereka belum memutuskan untuk pulang karena khawatir akan terjadi banjir lagi.
"Kalau saya, banjir kemarin, kulkas, mesin cuci itu habis kerendam. Belum sempat saya cek kerusakannya sekarang," kata dia.
Tidak hanya barang yang terendam banjir, tinggal sejak 1992 di daerah itu, ia juga pernah mengalami beberapa kejadian lainnya.
"Waktu paling parah itu (banjir) 2005 atau 2007 kalau tidak salah. Atap rumah saya ambruk, karena arus air. Saat itu pernah ada dari pemerintah yang datang mendata kerusakan rumah untuk ganti rugi, tapi hasilnya sampai sekarang nihil," ucap Awi.
Beberapa kali mengalami kejadian buruk karena banjir, ia mengaku tidak memiliki keinginan untuk pindah ke tempat lain, sebab, rumah tersebut adalah warisan dari mertuanya.
"Kalau warisan kan enggak berani jual. Lagipula, dari program pemerintah penggusuran di pinggir sungai, rumah ini tidak kena, ya jadi betah-betah aja," ucap dia.
Warga menggunakan ban bekas untuk melintasi genangan air di kawasan Sunter, Jakarta Utara. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
Jika Awi pernah merasakan kerugian barang dan kerusakan rumah akibat banjir, lain halnya dengan Surati yang tinggal di RT 15 RW 8.
Kala itu, Rabu (1/1) pagi, setelah salat subuh, Surati sudah diingatkan anaknya untuk mengungsi ke Masjid, karena ketinggian air sudah mulai memasuki rumah warga. Namun, perempuan 59 tahun itu memilih bertahan di lantai 2 rumahnya.
"Anak saya keluar. Saya memilih di lantai 2. Pikiran saya waktu itu, ah nanti-nanti juga surut, karena biasanya banjir besar itu Februari," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Namun, ternyata, air tak kunjung surut di rumahnya. Ia pun terjebak di lantai 2 rumah itu, beruntung, masih ada makanan yang dibawanya.
"Dari subuh sampai jam 5 sore (terjebak). Akhirnya dijemput pakai ban sama anak saya, itu juga aksesnya susah," kata dia.
Belajar dari pengalaman terjebak belasan jam itu, ia tak mau terulang kembali, pada Senin (24/2) lalu, saat banjir sudah menggenang rumahnya dengan ketinggian 0,5 meter. Ia sudah mengungsi ke Masjid Jami Ittihadul Ikhwan.
"Sekarang takut, (air) baru sepinggang udah mengungsi, kan memang daerah rawan banjir disini," kata dia.
Lihat juga:Anies: Banjir Jakarta Sudah Surut 100 Persen |
Warga menggunakan ban bekas untuk melintasi genangan air di kawasan Sunter, Jakarta Utara. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)