Akibat bentrok tersebut, 27 orang dilaporkan meninggal dunia, dan lebih dari 200 orang terluka. Bentrokan itu dipicu protes atas Undang-undang Kewarganegaraan di pinggiran New Delhi yang dianggap mendiskriminasi umat Islam.
"Upaya ini penting dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab Internasional, yakni turut berperan dalam usaha menciptakan perdamaian dan keamanan dunia," kata Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal lewat keterangan tertulis, Kamis (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi pascabentrok antara umat Hindu dan Islam di India yang dilaporkan memakan 27 korban tewas. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh). |
"Serta mengajak kepada masyarakat internasional untuk bersama-sama menggalang bantuan kemanusiaan dan upaya-upaya perdamaian bagi masyarakat India," ucap Helmy.
Ditemui di Kantor PBNU, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengutuk keras bentrokan antarumat beragama yang terjadi di India.
[Gambas:Video CNN]
Namun begitu, menurut dia, perlu ditelusuri lebih lanjut apakah bentrokan itu dilatarbelakangi oleh masalah agama atau sebatas permasalahan politik.
"Kalau itu (bentrokan di India) masalah agama kita protes keras, tapi kalau masalah politik kita tidak ikut campur," ujar Said.
UU Kewarganegaraan di India menjadi kontroversial di tengah masyarakatnya. Sebab undang-undang itu mengizinkan India memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan.
Namun status kewarganegaraan itu hanya diberikan kepada imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam.
Beleid itu disahkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi yang beraliran sayap kanan. Partai pengusungnya, Bhratiya Janata (BJP) dituduh bersikap diskriminatif terhadap umat Muslim. (dmi/osc)
Situasi pascabentrok antara umat Hindu dan Islam di India yang dilaporkan memakan 27 korban tewas. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh).