Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Jawa Barat, terdapat 240 jiwa atau 80 Kepala Keluarga di dua desa yang terisolasi akibat kejadian itu.
"Akses jalan yang terputus menuju ke dua desa yaitu Desa Santanamekar dan Desa Indrajaya terisolir," tulis keterangan Pusdalops BPBD Jawa Barat, Jumat (28/2).
Longsor juga mengakibatkan sedikitnya delapan unit rumah terancam mengalami kerusakan parah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BPBD juga akan berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk mengetahui penyebab longsoran," tulis pernyataan Pusdalops BPBD.
Lihat juga:Satu Orang Tertimbun Longsor di Tasikmalaya |
Berdasarkan informasi yang dihimpun, longsor di Kampung Palasari terjadi pada tebing yang diketahui memiliki panjang 3 kilometer dengan tebal 40 meter. Longsoran tanah tepat berada di areal persawahan
"Kami akan berusaha membuka akses jalan tertutup longsor agar yang terisolir bisa beraktivitas seperti biasa," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Irwan.
Selain mengisolasi warga, satu orang dilaporkan hilang yang diduga tertimbun longsor tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, berdasarkan rilis wilayah potensi gerakan tanah Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, sejumlah daerah harus mewaspadai gerakan tanah yang menimbulkan bencana longsor pada Februari 2020 ini.
Dalam keterangannya, sejumlah daerah di Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Kecamatan Cisayong berpotensi gerakan menengah-tinggi, dan berpotensi banjir bandang.
Potensi gerakan tanah menengah maksudnya, daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah.
"Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan," kata Kepala PVMBG Kasbani.
Sedangkan potensi tinggi berarti daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
"Kewaspadaan perlu ditingkatkan saat musim hujan di wilayah di pegunungan, perbukitan, dan seputaran bantaran sungai," ucap Kasbani.
(hyg/gil)