Menurut koordinator aksi Mutiara Ika, aksi tahun ini ingin langsung menyampaikan sikap beserta tuntutan langsung pada Presiden Joko Widodo.
Jokowi, lanjut dia, melihat dan menyuarakan problem kekerasan perempuan adalah penting dan darurat. Namun suara ini tidak sejalan dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya menilai ada hambatan politik berkaitan dengan budaya patriarki sehingga upaya pemberdayaan perempuan tidak sampai ke akarnya.
[Gambas:Video CNN]
Sekitar empat ribu partisipan turut dalam aksi hari ini. Menurut Ika, mereka berasal dari berbagai organisasi perempuan, organisasi masyarakat, organisasi perlindungan korban, serikat buruh, juga masyarakat umum.
Mereka membawa spanduk maupun poster dengan beragam isi tuntutan seperti 'Hakim Waib Melek Perspektif Gender, 'Sick of Reading Dead Women in the Headline', 'Famepire Strikes Back' juga Bilas Muka Gosok Gigi Lawan Patriarki'.
"IWD ini, perempuan menunjukkan ia adalah kekuatan. Ada sebuah perasaan kebersamaan, tidak hanya kita sendirian untuk melakukan perubahan," ujarnya.
Enam tuntutan di Hari Perempuan Internasional 2020:
1. Tuntaskan kasus kekerasan terhadap perempuan.
2. Bangun sistem perlindungan komprehensif bagi perempuan.
3. Cabut kebijakan diskriminatif gender.
4. Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
5. Tolak omnibus law, RKUHP, RUU Ketahanan Keluarga.
6. Hentikan agenda pembangunan yang berpihak pada investor. (els/mik)