"Kami juga temukan bahwa untuk saat ini, mudah-mudahan tidak terjadi sebaliknya, bahwa masih banyak terjadi di pemukiman yang bukan pemukiman kumuh," kata Sri di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (12/3).
Ditemukannya hasil demikian, Sri mengatakan DKI langsung memitigasi agar penularan tidak terjadi di daerah yang lebih luas. Sri mengatakan kejadian akan semakin bahaya jika penyakit tersebut masuk ke daerah padat penduduk dan kumuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dari wilayah tinggal, Sri juga mengatakan DKI mendapatkan hasil bahwa sebagian besar pasien memiliki kontak erat dengan pasien yang sebelumnya sudah ditetapkan positif. Kemudian, pasien Corona yang paling banyak ditemui ialah dengan gejala batuk.
"Data-data yang kami punya untuk dilakukan modelling simulasi untuk memitigasi lebih lanjut. Seperti misalnya menggunakan data riwayat kontak dengan pasien positif, ada batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri dan sebagainya. Termasuk (data) umur," beber dia.
"Karena teman-teman juga tahu persebaran ada di Depok, ada di Kemang, dan sebagainya. Itu kami lakukan untuk melakukan mitigasi lebih lanjut supaya tahu apa yang akan kita kerjakan dengan lebih baik lagi," tutup dia.
Diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin membenarkan DKI memiliki data terkait potensi persebaran virus di KRL. Dari data yang ditunjukkan, KRL JAlur 2 dengan rute Kota-Depok-Bogor menjadi jalur dengan yang potensi yang paling riskan penyebaran virus Corona.
Namun pihaknya menegaskan bahwa data itu hanyalah potensi dan hasil pemetaan dari data pasien yang ada.
Sampai dengan hari ini, sudah ada sebanyak 3.892 orang yang menghubungi call center DKI. Kemudian orang yang berada di dalam pemantauan (ODP) adalah 98 orang dan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) pada posisi kemarin sore adalah 103 orang. (ctr/age)