"Kami tadi juga rapat di pagi hari bersama Menteri Kesehatan dan seluruh jajaran untuk mulai melakukan kajian untuk rapid test, seperti apa yang dilaksanakan di negara lain," ujarnya melalui konferensi pers daring Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (18/3).
"Ini menggunakan spesimen darah, bukan tenggorokan. Serum darah yang diambil," dia menambahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, metode pemeriksaan menggunakan PCR dan genome sequencing hanya bisa dilakukan oleh laboratorium yang memiliki fasilitas keamanan yang mumpuni, yakni level II. Jika tidak, terjadi penularan pada petugas maupun ke luar lingkungan laboratorium.
Namun demikian, Yuri menyebut metode rapid test ini juga punya kelemahan. Karena rapid test memeriksa protein immunoglobulin pada tubuh, pasien baru bisa terdeteksi positif jika sudah terinfeksi virus setidaknya seminggu.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu, kemungkinan bacaan immunoglobulin-nya akan negatif," tambahnya.
Lebih lanjut, Yuri mengatakan pihaknya juga mempertimbangkan opsi isolasi diri bagi pasien yang dinyatakan positif melalui rapid test, namun tidak memiliki gejala atau gejala minim.
"Hal ini harus diiringi dengan pemahaman didapatkan masyarakat terkait isolasi diri," imbuhnya.
Masyarakat, katanya, mesti paham bahwa hasil pemeriksaan positif dari rapid test berarti pasien dapat menularkan virus ke orang lain walaupun tidak memiliki gejala.
"Tanpa kesiapan memahami dan mampu isolasi diri, maka tentunya semua kasus positif akan berbondong ke rumah sakit padahal belum tentu butuh layanan rawatan layanan rumah sakit," tambahnya.
(fey/arh)