"[Jokowi] enggak tegas, enggak update kondisi, dan enggak memberikan acuan," ujar dia, melalui sambungan telepon, Kamis (19/3).
Sebelumnya, Jokowi sempat mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Imbauan itu kan udah 3-4 hari lalu. Dulu [jumlah kasus positif Corona] baru 30 orang. Enggak bisa lagi itu [sekadar imbauan]," lanjutnya, yang juga merupakan Direktur Eksekutif Lokataru itu.
Per Kamis (19/3), jumlah kasus positif Corona di Indonesia mencapai 209 kasus, 25 di antaranya meninggal dunia, dan 15 orang dinyatakan sembuh.
[Gambas:Video CNN]
Kasus terbanyak berasal dari DKI Jakarta, dengan 210 kasus positif dan 17 orang meninggal dunia.
Pantauan CNNIndonesia.com, para pekerja di Jakarta sendiri masih tampak memadati angkutan publik maupun di jalanan.
Buruh Tanpa Perlindungan
Kementerian/Lembaga di Jakarta sendiri sudah mempekerjakan mayoritas Aparatur Sipil Negara (ASN)-nya dari rumah. Sejumlah perusahaan swasta pun sudah menerapkan WFH, secara penuh ataupun sebagian.
Meski begitu, masih ada perusahaan yang tak mengikuti imbauan pemerintah.
Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) mengatakan masih ada jutaan buruh padat karya di Indonesia yang bekerja, mereka pun bekerja tanpa disediakan masker dan hand sanitizer.
"Di tengah bencana nasional covid-19, jutaan buruh industri padat karya masih harus menjalankan aktivitas pekerjaan seperti biasa. Kerja berdempetan dalam satu ruangan untuk waktu yang lama tanpa disediakan masker dan sanitizer," ujar FBLP dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (19/3).
Hal itu membuat FBLP risau terhadap kesehatan para buruh garmen dan padat karya lainnya.
"FBLP merasa sangat khawatir dengan nasib buruh garmen dan padat karya lainnya, yang kini menjadi sangat rentan terancam nyawanya tanpa perlindungan hak," ujar pernyataan itu.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
(ndn/arh)
Foto: CNN Indonesia/Fajrian