Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kolaka Muhammad Aris menyatakan hasil tes Corona PDP yang meninggal saat ini belum keluar.
"Namun, kita melakukan pendataan sudah dua hari ini. Ada sekitar 200-an lebih. Ada 60 dari Bombana dan sekitar 150-an dari Kolaka. Semuanya yang datang melayat termasuk suami dan keluarga terdekatnya," kata Aris saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara teori kan gejalanya nanti di atas hari kelima. Tapi mungkin dampak psikologi saja," imbuhnya.
Sebelum dinyatakan PDP, lanjut dia, warga Kolaka yang meninggal itu sempat umrah dan tiba di Kolaka pada 17 Februari 2020.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
"Namun dia sempat umrah dulu dan tiba di Kolaka perutnya makin sakit. Ia kemudian berobat ke RSU Bhayangkara Kendari dan selanjutnya dirujuk ke Bahteramas Kendari. Di Bahteramas dia ditetapkan PDP disamping penyakit beratnya itu," bebernya.
Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sultra dr La Ode Rabiul Awal menyebut, pihaknya masih menunggu hasil lab atas status PDP tersebut.
Menurutnya, hasil lab pasien akan menunggu karena banyaknya sampel swab yang dikirim dari daerah yang mengidentifikasi warga diduga terinfeksi virus corona.
Rabiul mengaku, hasil lab positif biasanya diumumkan oleh jubir Gugus Tugas Covid-19 nasional.
Namun bila negatif, maka hasil lab akan diterima oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sultra dan RSUD Bahteramas Kendari untuk diumumkan.
"Tapi negatif itu biasanya tidak diumumkan. Hanya disampaikan ke keluarga," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, ia pun menyarankan agar pelayat maupun keluarga dekat untuk diidentifikasi sembari melakukan isolasi diri selama 14 hari.
Sebelumnya, video pemulasaran jenazah PDP asal Kabupaten Kolaka viral di media sosial. Jenazah pasien perempuan berusia 34 tahun itu dijemput oleh keluarga di RSU Bahteramas Kendari usai meninggal di ruang isolasi.
Keluarga juga menolak menggunakan mobil ambulans milik rumah sakit dan lebih memilih membawa jenazah menggunakan mobil pribadi.
Tiba di kampungnya di Kolaka, jenazah disambut histeris. Plastik yang membungkus jasad dibuka, prosesi pemakaman tidak seperti penanganan pasien virus corona.
(pnd/arh)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi