Tanpa APD, para tenaga medis dari mulai dokter hingga sopir ambulans rentan terinfeksi virus Covid-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu produsen tas asal Bogor, Tulip Craft Bogor turut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan ini. Pihak Tulip berencana mendonasikan 10.000 APD ke rumah sakit yang membutuhkan.
Dhia menjelaskan, pihaknya membuat APD Coverall berbahan spunbond atau kain sintetis yang biasa digunakan untuk memproduksi goodie bag ramah lingkungan.
Dalam pembuatan APD ini, kata Dhia, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor untuk standarisasi APD.
"Jadi sebelum kita produksi banyak kita standarisasi ke IDI kota Bogor," ujarnya.
[Gambas:Instagram]
"Karena saya sangat prihatin dengan keadaan saat ini, saya karyawan dan bukan tenaga medis, enggak bisa bantu banyak," ujar Eta kepada CNNIndonesia.com.
Eta menjelaskan, satu APD membutuhkan biaya hingga Rp95.000, dengan perhitungan biaya bahan, alat, dan tukang jahit. Ia mengaku tidak mengambil untung sepeserpun dari pembuatan APD tersebut.
Berbeda dengan Dhia bersama Tulip Craft, Eta yang merupakan karyawan swasta salah satu perusahaan di Jakarta itu mengatakan, APD yang dibuatnya belum dikoordinasikan dengan IDI.
"Hanya koordinasi dengan beberapa dokter, karena sempat cek-cek bahan yang sesuai standar itu sulit sekali dan harganya tinggi. Saya menggunakan bahan parasut waterproof," kata dia.
Eta dan Nurfitri memulai donasi sejak Senin (23/3) dan sampai saat ini, mereka telah membuat 100 APD dan disebar ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Harapan Kita, dan RSU Bunda Jakarta.
Nurfitri saat dihubungi CNNIndonesia.com mengatakan, donasi ini mulanya hanya untuk mengajak teman-teman terdekatnya. Ia sempat mengunggah rencana donasi ini ke akun Instagram pribadinya @nurfitrihadiewinoto.
Namun, kata dia, respons atas donasi yang ia gagas tidak hanya datang dari teman-teman terdekat tapi juga meluas ke publik lainnya.
"Alhamdulillah dari kemarin siang sampai detik ini sudah Rp29 juta lebih dana yang terkumpul dari dokter dan teman-teman yang ikut baca postingan ini," jelas Nurfitri.
Donasi serupa juga dilakukan desainer ternama Indonesia, Anne Avantie. Dalam unggahannya di Instagram resminya @anneavantieheart, Kamis (26/3), Anne menyatakan tengah membuat APD untuk tenaga medis.
"Kami persembahkan bagi pahlawan kemanusiaan yang berjuang memerangi Covid-19 di garda terdepan," tulis Anne.
Anne dalam unggahannya juga menegaskan jika APD ini tidak diperjualbelikan, tetapi untuk disumbangkan ke sejumlah rumah sakit dan layanan kesehatan yang membutuhkan.
[Gambas:Instagram]
Bukan hanya itu, di media sosial lain seperti di Twitter dan Facebook pun ramai gerakan untuk mendonasikan APD bagi tenaga medis, terutama masker yang kini memang tengah langka.
[Gambas:Video CNN]
Terkait kelangkaan APD, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia Harif Fadhillah sebelumnya mengatakan, stok alat pelindung diri untuk dokter dan perawat seperti kacamata, baju pelindung, penutup kepala, sarung tangan, dan hand sanitizer langka.
"Kelangkaan itu terjadi di seluruh Indonesia," kata Harif.
Menurut Harif, kelangkaan APD tak bisa diganti dengan barang lain karena alat untuk melindungi diri harus sesuai dengan standar yang berlaku. Alat pelindung diri juga harus memenuhi kualifikasi yang membuat dokter dan perawat aman dan tidak tertular virus dari pasien.
Jika menggunakan barang lain, ditakutkan tak memenuhi standar keselamatan dan justru membahayakan tenaga medis.