IDI Bantah Mengimbau Tenaga Medis Mogok Tangani Pasien Corona

CNN Indonesia | Sabtu, 28/03/2020 18:07 WIB
IDI Bantah Mengimbau Tenaga Medis Mogok Tangani Pasien Corona Ilustrasi. IDI membantah tuduhan akan lakukan mogok kerja para tenaga medis yang menangani pasien corona. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membantah pemberitaan media yang menyebut IDI mengimbau mogok kerja bagi para tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 yang terinfeksi virus corona SARS-COV-2.

Klarifikasi ini disampaikan terkait imbauan yang dikeluarkan oleh IDI dengan empat profesi medis lainnya pada Jumat (27/3). Saat itu disebutkan kalau IDI mengimbau tenaga medis melakukan mogok kerja jika kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) tidak dicukupi oleh pemerintah.

"Kami sama sekali tidak menyampaikan hal tersebut, kalau di imbauan itu tidak menyampaikan pernyataan mogok sama sekali," kata Humas IDI Halik Malik saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (28/3).

Sebelumnya, dalam keterangan tertulis IDI disebutkan, 'meminta anggota profesi untuk tidak ikut melakukan perawatan penanganan pasien Covid-19 demi melindungi dan menjaga keselamatan sejawat'.


Imbauan yang ditandatangani Ketua Umum IDI, Daeng M. Faqih tersebut ditujukan kepada internal petugas medis. Menurut Malik, imbauan tersebut juga berisi saran kepada pemerintah agar mencukupi ketersediaan APD yang memadai. 

Namun, lewat keterangan tertulis, Daeng pun membantah pemberitaan tersebut.

"Tidak ada ancaman mogok oleh petugas kesehatan, petugas tetap bersama rakyat di lini depan untuk menolong dan merawat warga yang sakit karena virus covid-19," tulis Daeng, Sabtu (28/3).

Lebih lanjut, Daeng menegaskan imbauan tersebut dilakukan agar tenaga medis bisa bersikap tegas untuk selalu menggunakan APD saat bertugas.

"Imbauan untuk petugas kesehatan, yang pakai APD boleh merawat pasien Covid-19. (Tapi) yang tidak pakai APD tidak diperkenankan merawat pasien Covid-19," tambahnya.  

Imbauan pernyataan pada (27/3) lalu menurut Halik merupakan gabungan olah pikir dari Organisasi profesi yang terlibat dalam penanganan pasien Covid-19 yang terdiri dari IDI, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Lebih lanjut Halik mengatakan bahwa saat ini stok APD di beberapa rumah sakit memang terbatas.

[Gambas:Video CNN]

"Bahkan kemarin dari Pengurus Besar IDI sendiri mendengar laporan bahwa stok APD yang ada hanya cukup untuk seminggu kedepan," tambahnya.

Pasalnya, APD yang telah digunakan harus langsung dihancurkan untuk menghindari infeksi Covid-19. Do beberapa daerah, tenaga medis bahkan terpaksa menggunakan kantong sampah akibat keterbatasan alat pelindung diri (APD) untuk menangani pasien Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-COV-2.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M. Faqih, hal ini terjadi lantaran ketersediaan APD tidak dapat mengimbangi lonjakan jumlah pasien positif Covid-19 yang terus meningkat.

Selain kantong sampah, kata Faqih, para tenaga medis juga mengakali pelindung diri menggunakan jas hujan dan baju bekas di kamar operasi. Sebab APD hanya bisa dipakai sekali dan harus langsung dihancurkan guna mencegah penularan. (khr/eks)