Rinciannya sebanyak 95 pengaduan dari SMA, 32 pengaduan dari SMK, 19 pengaduan dari MA, 23 pengaduan dari SMP, satu pengaduan dari MTS, tiga pengaduan dari SD, dan satu pengaduan dari TK. Pengaduan terbanyak didapati di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retno mengatakan masih banyak guru yang mengaku bingung mengelola pembelajaran jarak jauh. Ragam media yang ada juga tidak dimanfaatkan sebagai alternatif belajar.
Salah satu kegiatan di sebuah Sekolah Dasar sebelum pandemi virus corona menghantam dunia. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi) |
"Beberapa pengaduan siswa sekolah swasta yang menyatakan keberatan membayar uang iuran sekolah/SPP secara penuh karena tidak ada aktivitas pembelajaran di sekolah," ungkap Retno.
Sedangkan bagi siswa dengan orang tua berpenghasilan harian, perkara biaya kuota jadi kendala yang banyak dilaporkan.
"Ada sopir ojek online yang memiliki tiga anak, dua di jenjang SD dan satu di jenjang SMA, kewalahan dalam membeli kuota internet. Padahal penghasilan sebagai ojol menurun drastis," tuturnya.
Ia berpendapat tidak mungkin setiap anak dalam satu sekolah diberikan pulsa dari dana BOS. Artinya pemerintah harus memetakan lebih jelas kriteria anak yang bisa dibelikan pulsa dan yang tidak.
Untuk mencegah kebingungan dalam proses belajar mengajar, KPAI meminta Kemendikbud untuk membuat kurikulum khusus selama KBM di tengah wabah Covid-19. Terlebih, KBM dari rumah bisa berlangsung hingga hitungan bulan.
"Artinya pembelajaran jarak jauh dengan segala keterbatasan akan berlangsung lama dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai. Serta minim pendampingan guru dalam proses pembelajaran."
Dalam kurikulum tersebut pemerintah memberikan acuan materi yang perlu disampaikan dan tidak perlu diselesaikan selama masa bencana.
"Sebenarnya pak menteri sudah sebutkan kurikulumnya tidak perlu diselesaikan. Namun itu kan guru kadang nggak tahu sampai mana diselesaikan dan tidak. Guru juga bingung mana yang utama mana yang tidak," ujarnya.
Kemendikbud sebelumnya mengakui perkara tugas bertumpuk jadi permasalahan sekolah dari rumah. Hal ini, kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kemendikbud Harris Iskandar karena guru berpikir kurikulum harus diselesaikan.
Untuk itu pihaknya menyampaikan dalam kondisi darurat corona, sekolah tidak mesti menyelesaikan seluruh materi kurikulum. Pembelajaran juga tak boleh menitikberatkan pada nilai pencapaian.
"Jangan hanya fokus pencapaian kurikulum, hanya memetakan pembelajaran di rumah, jadi harus lebih kreatif.Kami sarankan pendidikan kecakapan hidup coba di-explore. Jadi tidak mesti harus [belajar secara] daring," ungkapnya melalui diskusi dengan konferensi video, Selasa (24/3) lalu.
Salah satu kegiatan di sebuah Sekolah Dasar sebelum pandemi virus corona menghantam dunia. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)