Rasa mual datang setiap kali memikirkan nasib skripsi. Tiara mengaku tidak punya riwayat sakit maag atau asam lambung, tetapi mual tetap saja selalu datang. Mengganggu pikiran hingga membuatnya tak semangat setiap kali membuka laptop.
Tiara sendiri ingin menyelesaikan skripsinya semester ini. Namun, proses pengerjaannya terhambat karena bimbingan skripsi kini harus dilakukan via internet atau dalam jaringan (daring) dengan dosen. Tak bisa bertemu langsung dengan dosen yang bersangkutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadwal bimbingan daring Tiara jatuh dua minggu sekali setiap hari Jumat melalui video call. Bisa pula lewat aplikasi WhatsApp. Di luar hari itu, dosen tak janji menjawab keluhnya soal skripsi.
"Kalau dijawab saat itu saya baru bisa lanjut ngerjain bab dua. Tapi dosen baru jawab dua minggu setelahnya, saya nggak bisa lanjut karena butuh persetujuan dosen soal topik dan judulnya. Jadi saya harus nunggu," ujar Tiara kepada CNNIndonesia.com melalui, Selasa (14/4).
Ia tak enak hati 'meneror' dosen melalui WhatsApp atau telpon berulang kali. Terlebih, sebenarnya dosen yang bersangkutan selalu online atau aktif di aplikasi WhatsApp, namun tak kunjung membalas pesan dari Tiara. Begitu pun mahasiswa lainnya.
Tiara mengaku pada sesi video call terakhir bersama dosen, bimbingan hanya dilakukan lima menit. Banyak pertanyaan Tiara yang tak dijawab tegas oleh dosen pembimbing, sehingga membuatnya makin bingung bagaimana melanjutkan pengerjaan skripsinya.
"Kalau saya bisa ketemu langsung enggak mungkin dicuekin cuma lima menit. Walaupun dicuekin tapi seenggaknya dosennya bisa lihat muka saya. Tapi kalau dicuekin di video call dan WhatsApp gimana," keluhnya.
Ia ingin berusaha semaksimal mungkin. Mencari cara agar bisa lulus tepat waktu. Tetapi di tengah komunikasi terhambat, Dia tak bisa datang langsung ke kampus. Tiara takut dengan wabah corona.
Ia hanya bisa merasakan mual, kepala pening dan gangguan tidur setiap memikirkan skripsi. Apalagi harus berupaya mengejar target dalam waktu lima hari.
Kendala serupa juga dialami Mila (bukan nama sebenarnya), mahasiswa tingkat akhir program studi teknik kimia perguruan tinggi negeri di Jakarta. Skripsinya turut mandek karena laboratorium di kampus tutup sejak pertengahan Maret.
Padahal ia masih harus bolak-balik laboratorium setidaknya lima hari lagi. Masih ada produk yang harus diuji sebelum skripsinya bisa diselesaikan.
"Mungkin saya masih ada harapan [lulus tepat waktu] karena saya tinggal satu produk dan tinggal buat analisa. Tapi yang lainnya tuh ada yang masih dua sampai tiga bulan lagi harus ke lab, kasihan," tuturnya.
Demi mengakomodir mahasiswa tingkat akhir yang sedang skripsi, kabarnya laboratorium di kampus Mila bakal dibuka. Itu kabar baik.
Akan tetapi, di satu sisi, Mila ingin lekas menyelesaikan skripsi Di sisi yang lain, Mila juga cemas tertular virus corona yang tengah mewabah. Terlebih Mila punya orang tua yang sudah lanjut usia di rumah. Ayahnya juga punya penyakit penyerta yang bisa berbahaya jika terjangkit virus corona.
Jika dihitung-hitung jumlah mahasiswa tingkat akhir di jurusannya masih tergolong banyak. Satu laboratorium, jika sudah dibuka oleh pihak kampus, bisa diisi 7 sampai 13 mahasiswa.
"Yang takut itu bawa virusnya ke rumah itu lho. Di lab itu bisa sibuk banget.Pasti bolak balik," kata Mila.
"Karena bisa setiap saat komunikasi dengan dosen pembimbing secara virtual," tutur Nizam kepada CNNIndonesia.com.
Akan tetapi, apa yang disampaikan Nizam tidak sejalan dengan nasib Mila dan Tiara. Selain itu, Kemendikbud pun tidak menginstruksikan secara formal agar perguruan tinggi memberi keringanan skripsi selama wabah corona.
"Imbauan kami untuk tugas akhir topiknya jangan yang membutuhkan pengumpulan data primer di lapangan. Saat ini tentu tidak baik melakukan pengumpulan data lapangan di tengah pandemi," lanjutnya. (fey/bmw)