Dia menilai tidak ada lelang atau sayembara yang jelas dibuka ke publik oleh pemerintah sebelum penentuannya.
"Jelas tidak ada transparansi dan akuntabilitas dalam prosesnya," kata Rachland dalam keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4). "Semuanya tidak transparan," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rachland menduga pemerintah bertindak tidak transparan karena merasa dilindungi pasal 27 ayat (1) dan ayat (2) Perppu Nomor 1 Tahun 2020.
Aturan itu menyebut segala biaya yang dikeluarkan pemerintah merupakan upaya menyelamatkan ekonomi dan bukan kerugian negara. Pemerintah juga tidak bisa dituntut dalam penanganan Corona.
[Gambas:Video CNN]
Dia mengatakan kewenangan itu merupakan hak budget yang seharusnya dimiliki legislatif. Dengan aturan itu, kata Rachland, pemerintah bisa menentukan kebijakan tanpa harus berkonsultasi dengan DPR.
"Ini bukan saja merampas hak kontrol DPR, tapi secara substansial menempatkan Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi sejajar dengan negara-negara totaliter atau fasistis yang tersisa di planet bumi," ucap Rachland.
Sebelumnya, pemerintah menunjuk delapan perusahaan sebagai mitra Kartu Prakerja. Mereka adalah Tokopedia, Skill Academy by Ruangguru, Maubelajarapa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijarmahir, dan Sisnaker.
Pemerintah menargetkan 5,6 juta orang menjadi penerima Kartu Prakerja. Mereka akan mendapatkan bantuan pelatihan Rp1 juta, penuntasan pelatihan Rp600 ribu per bulan selama empat bulan, dan 150 ribu untuk survei kebekerjaan.
Contoh PMO ini, katanya, adalah sejumlah perusahaan rintisan (start-up), seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli.com, Ruangguru. Namun, klaimnya, tidak ada aliran dana untuk pihak-pihak ini.
"Tapi mereka, platform ini tidak mendapat fee, mereka hanya bantu kurasi, tinggal kerja sama business to business ke penyedia pelatihan," katanya, Kamis (12/3).
(dhf/arh)