Baku tembak antara dua terduga teroris dan polisi itu di sekitar jalan lingkar wilayah Kayamaya, Poso, sekitar pukul 12.00 Wita.
Baku tembak itu terjadi usai pengejaran yang dilakukan polisi pada dua pelaku yang menembak petugas di salah satu pos jaga dekat sebuah bank. Dalam insiden itu, seorang petugas tertembak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua terduga teroris yang tewas adalah Ali alias Darwin Gobel dan Muis Fahron alias Abdullah. Mereka masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Sulteng.
Lihat juga:Dua Penyerang Polisi di Poso Ditembak Mati |
Baku tembak pada hari ini, disebut Syafril merupakan rangkaian aksi yang dilakukan oleh kelompok yang sama, yakni kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.
"Untuk itu saya meminta kepada Ali Kalora dkk untuk segara menyerah, kalau tidak kita akan buru terus sampai kapanpun juga sampai habis semuanya," ujarnya.
Dia mengungkapkan sebelumnya juga terjadi rangkaian aksi kekerasan berupa penyerangan terhadap patroli polisi dan seorang petani yang sedang memanen kakao.
Terkait penyerangan pada petugas, Syafril mengatakan tergetnya selain melukai juga merampas senjata.
"Target pelaku ini mengambil senjata dari anggota, tidak ada perampokan murni mengambil senjata dari TKP dan CCTV yang kita lihat," imbuh Syafril.
Dia menambahkan dengan rangkaian kejadian beberapa hari terakhir, polisi memperketat pengamanan wilayah. Menurutnya, jaringan kelompok MIT pimpinan Ali Kalora telah masuk ke dalam Kota Poso.
"Pengamanan diperketat dengan melibatkan teman-teman dari TNI," ujarnya.
Baku tembak di Poso pada hari ini berawal dari penyerangan yang dilakukan dua terduga teroris jaringan MIT kepada polisi yang berjaga di Bank Syariah Mandiri, Poso, sekitar pukul 12.00 Wita.
Polisi yang mendapat serangan itu mengalami luka tembak di dada sebelah kanan tembus punggung belakang. Selanjutnya, aparat mengejar kedua pelaku dan sempat menangkapnya. Namun keduanya melawan hingga dilakukan penembakan.
Syafril mengatakan mayat kedua pelaku akan bawa ke Palu untuk diautopsi dan diidentifikasi.
"Barang bukti yang didapat ada senjata FN, ada peluru, ada bom, sepeda motor yang dipakai dan beberapa barang bukti lainnya," katanya..
Syafril menambahkan saat ini diperkirakan DPO kelompok tersebut berjumlah 14 orang, berada di wilayah Kabupaten Poso.
(antara/wis)