Pihak epolisian setempat menduga patung dewa dengan tinggi mencapai 30,4 meter itu roboh akibat cuaca sehingga konstruksi patung tidak bisa menahan tekanan angin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, salah seorang panjaga klenteng, Alim Sugiantoro mengaku terkejut dengan robohnya patung yang berada di halaman belakang klenteng tersebut.
Alim mengatakan pihak klenteng masih melarang dan tidak bisa memberikan izin kepada siapa pun untuk masuk ke lokasi, kecuali para petugas yang sedang melakukan penyelidikan terkait robohnya patung tersebut.
Sebelumnya, sempat beredar video di kalangan masyarakat Kabupaten Tuban terkait robohnya patung yang menjadi ikon wilayah setempat. Dalam video itu terlihat posisi patung yang masih utuh tetapi secara cepat dalam hitungan detik runtuh dan hanya meninggalkan bagian pedang dari patung serta kerangka/tulang bangunan yang menyangga patung tersebut.
Patung yang dibangun menghadap ke arah laut dan didirikan pada Juli 2017 itu dinobatkan sebagai patung dewa terbesar se-Asia Tenggara. Pendirian patung raksasa ini sempat ditolak sekelompok masyarakat dengan menggelar protes di gedung DPRD Jawa Timur.
Mereka mendesak patung itu segera dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.
(ant/jal)