"Terjadi awan panas guguran sejauh 2.000 meter, pusat guguran sekitar 1.000 meter dari kawah ke arah Besuk Bang," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian (PVMBG) Kasbani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada 17 April 2020, terekam gempa awan panas guguran dengan amplitudo maksimum 7 mm dan lama gempa 300 detik," ujarnya.
Kasbani juga menyebut potensi erupsi lanjutan masih ada dengan sebaran material erupsi berupa aliran lava, hujan abu lebat, dan lontaran batu (pijar) di sekitar kawah dalam radius 1 kilometer dari pusat erupsi, serta awan panas guguran sejauh 4 kilometer di sekitar lereng tenggara dan selatan.
"Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahaya Gunung Semeru hingga 17 April 2020, tingkat aktivitas vulkanik G. Semeru dinilai masih dalam Level II (Waspada). Tidak terdeteksi adanya peningkatan ancaman potensi bahaya," kata Kasbani.
Masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan beraktivitas di dalam Besuk Kembar, Besuk Kobokan dan Besuk Bang juga diminta agar mewaspadai ancaman bahaya aliran lahar.
(hyg/arh)