"Saya sih melihat, selama ini bukan hanya alkes atau obat-obatan yang langka. Dari seluruh aktivitas perdagangan kita memang harus dibuka ya untuk pelaku-pelaku baru. Sehingga, jangan itu-itu terus (importirnya)," kata Martin dalam sebuah diskusi yang disiarkan oleh Medcom.id, Minggu (19/4).
Martin menduga selama ini banyak pengusaha yang tak ingin kedudukannya digeser sebagai importir alkes. Tak heran, barang alkes yang masuk ke Indonesia susah beredar. Oleh karena itu, ia usul agar pemerintah membuka data impor agar ketersediaan alkes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang yang kami rasakan dua bulan terakhir ini tidak mudah mendapatkan jumlah yang kami minta untuk kebutuhan rumah sakit. Yang paling repot, contohnya masker N95. Ini agak susah," terang dia.
Bahkan, kata Lia, antar rumah sakit saling berebut untuk melindungi tenaga medisnya. Tak hanya soal ketersediaan, Lia juga menyatakan banyak alkes yang memiliki harga yang tidak wajar dan membuat rumah sakit kesusahan dalam mengadakan alkes.
Di samping kesusahan dalam mengadakan alkes, Lia mengaku masih banyak pihak yang sukarela memberikan bantuan alkes kepada rumah sakit. Sumbangan dari berbagai pihak menurutnya sangat membantu rumah sakit yang kesulitan mendapatkan alkes.
Terakhir, Ia berharap agar pemerintah bisa memenuhi ketersediaan alkes di Indonesia, sehingga bisa diadakan oleh rumah sakit.
"Kelihatannya menurut saya kebutuhan yang meningkat pesat itu yang menyebabkan tidak bisanya terpenuhi kebutuhan yang kita minta. Apalagi misalnya 'oh ini ga bisa cepat'. Kenapa?. 'Karena bahan bakunya di luar'. Ya sudah kalau sudah ngomong begitu kita bisa apa?" tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(ctr/bir)