Ibu Yulie meninggalkan empat orang anaknya, salah satunya masih bayi. Suaminya, Mohamad Holik (49), hanya bekerja sebagai pencari barang rongsokan dan pemulung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab tewasnya Ibu Yulie belum diketahui. Sebelum meninggal dia masih sempat menerima bantuan dari para relawan dan donatur. Kondisinya disebut sehat.
Penghasilan suaminya sebagai pemulung barang bekas hanya sebesar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per hari. Uang itu harus dibagi untuk masak dan kebutuhan hidup lainnya.
Dengan penghasilan terhenti, Holik yang sejak wabah corona mengaku belum mendapatkan bantuan sosial dari Pemprov Banten maupun Pemkot Serang, terpaksa harus menahan lapar dengan mengkonsumsi air galon isi ulang selama dua hari.
Rochman Setiawan, salah satu relawan yang sempat memberikan bantuan dan bertemu langsung dengan almarhumah, mengaku kaget mendengar Ibu Yulie meninggal. Dia mengaku baru memberikan bantuan pada Senin, 20 April, sekitar pukul 10.00 WIB.
"Kalau ada yang bilang keluarga Ibu Yulie enggak kelaparan, itu bohong. Waktu saya kasih bantuan, itu roti, langsung dimakan sama anaknya. Saya kaget pas dapat kabar ibu (Yulie) meninggal dunia," kata pria yang akrab disapa Omen itu, sembari terdengar menangis saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya.
Pihak Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, mengaku tak yakin keluarga di wilayahnya tersebut menahan lapar selama dua hari dengan meminum air galon isi ulang.
"Dua hari enggak makan saya sendiri enggak percaya juga, ya. Karena saya dapat informasi beliau masih makan," kata Lurah Lontar Baru, Dedi Sudradjat, ditemui di rumah duka kemarin.
"Kalau penyebabnya saya belum tahu pasti, tapi dokter bilang bukan Covid-19. (Menahan lapar) saya kira bukan itu. Pihak puskesmas bilang meninggal di jalan. Bukan juga (meninggal) karena kelaparan," jelasnya. (yan/wis)