Irwan mengaku sudah mendorong pemerintah melarang mudik sejak bulan lalu. Menurutnya, kelambatan Jokowi dalam mengambil keputusan membuat virus corona menyebar dari warga yang sudah mudik lebih awal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irwan pun meminta pemerintah serius menerapkan pelarangan mudik ini. Menurutnya, semua kekuatan harus dikerahkan untuk mengawasi lalu lintas di perbatasan laut, darat, dan udara selama kebijakan berlangsung.
"Pak Jokowi harus betul-betul memperlihatkan posisi beliau sebagai presiden dan ditindaklanjuti sampai bawah. Sehingga larangan presiden bisa membantu usaha pemerintah dalam memutus mata rantai covid," ujarnya.
Dihubungi terpisah, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera juga menyampaikan hal serupa. Dia menekankan keseriusan pemerintah dalam menerapkan larangan dan sanksi terkait mudik tahun ini.
"Tanpa ada tim yang mengawal, larangan ini akan ompong seperti apa yang terjadi dengan PSBB," kata Mardani dalam pesan singkat kepada wartawan, Selasa (21/4).
Terkait pelaksanaan larangan mudik, Mardani meminta pemerintah memerhatikan dampak terhadap warga. Ia menilai Jokowi dan jajarannya perlu menyiapkan insentif bagi orang yang tidak mudik beserta keluarganya.
"Biasanya yang mudik itu bawa bantuan untuk mereka yang di kampung. Pastikan bahwa ada bantuan yang diberikan dapat di-cover pemerintah," tuturnya.
Menteri Perhubungan ad interim Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa pemerintah memutuskan larangan mudik dengan berbagai pertimbangan secara bertahap, bertingkat, dan berlanjut. Menurutnya, setiap keputusan harus diambil dengan cermat.
"Jadi tidak ujug-ujug bikin, harus secara matang, cermat," kata Luhut.
Mudik akan efektif dilarang mulai Jumat 24 April. Pemerintah baru akan memberikan sanksi kepada masyarakat yang bersikeras mudik mulai Jumat 7 Mei 2020. Polisi pun akan menyekat sejumlah ruas jalan perbatasan DKI Jakarta. (dhf/fra)