Haedar mengimbau umat Islam untuk berpikir dan bertindak dengan mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas saat darurat penanganan virus corona ini.
"Kenapa begitu ngotot tarawih berjamaah harus di masjid dalam suasana saat wabah meluas? Lebih-lebih dalam darurat," kata Haedar dalam keterangan resminya, Rabu (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan semuanya disikapi seolah normal. Karena kondisi saat ini darurat," kata Haedar.
Lebih lanjut, Haedar meminta masyarakat Indonesia membuka mata bahwa wabah virus corona yang sudah menyebar di seluruh dunia ini begitu besar dampaknya.
"Ini bukan soal takut atau berani hadapi wabah, tetapi soal ikhtiar yang dari segi agama maupun ilmu dibenarkan untuk usaha mencegah datangnya wabah agar tidak semakin luas," kata Haedar.
Beberapa elemen masyarakat Islam berkukuh tetap ingin menggelar tarawih saat mewabahnya virus corona. Sebagai contohnya, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh tak melarang salat tarawih berjemaah di masjid saa pandemi corona.
Hingga saat ini, Aceh tercatat memiliki tujuh kasus virus corona. Dari jumlah itu, empat dinyatakan sembuh, satu pasien meninggal, dan dua lainnya di rawat di rumah sakit.
Salah satu poin yang tertuang dalam surat edaran itu adalah tak perlu menggelar salat Tarawih berjamaah dan kegiatan lainnya bila virus corona belum mereda. Muhammadiyah menganjurkan agar salat Tarawih dilakukan di rumah masing-masing. (rzr/fra)