"Impossible 10 ribu sehari," ujar Alex kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alex menjelaskan bahwa pengujian spesimen menggunakan metode PCR juga membutuhkan waktu yang lama. Selain itu dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang banyak dan berkualitas untuk melakukan pengujian spesimen di laboratorium.
Di Indonesia lab yang memenuhi syarat BSL 2 itu adalah laboratorium miliki Kementerian Kesehatan, Balitbangkes Jakarta dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL), lab Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan lab milik beberapa perguruan tinggi.
"Lab pendukung harus BSL 2, jika tidak akan terjadi bencana virus di area tersebut," kata Alex.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya terutama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 agar meningkatkan jumlah tes PCR untuk mendeteksi virus corona. Jokowi ingin tes PCR bisa dilakukan lebih dari 10 ribu kali dalam sehari.
"Beberapa laboratorium terpaksa harus menghentikan aktivitasnya karena memang reagen-nya belum sampai," kata Yuri.
Sementara Anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Arya Sinulingga mengatakan pemerintah telah mendatangkan alat tes PCR berupa dua buah automatic RNA dan dan 18 buah detektor PCR. Arya mengklaim pemerintah bisa melakukan hingga 10 ribu tes spesimen terkait Covid-19 per harinya.
"Kalau sudah terinstal semua, satu harinya bisa tes mencapai 9 ribu hingga 10 ribu," kata Arya. (mln/fra)