Saat ini, kata Trenggono, ada dua BUMN di sektor pertahanan yang mampu dan siap membuat ventilator, yakni Pindad dan Dirgantara.
Dua perusahaan yang masuk dalam klaster National Defence and Hightech Industries (NDHI) ini telah lulus uji produk oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trenggono menjelaskan ventilator merupakan alat bantu pernapasan yang vital dibutuhkan dalam penanganan pasien Covid-19. Sejak Covid-19 mewabah di seluruh dunia, hampir setiap negara membutuhkan alat kesehatan ini dan permintaannya kian tinggi.
"Saya selama ini aktif mendorong pabrik milik BUMN yang berada di klaster National Defence and Hightech Industries (NDHI) ikut produksi ventilator," ungkap Trenggono.
Trenggono menjelaskan pemanfaatan mesin produksi yang dimiliki sektor industri pertahanan untuk membuat ventilator merupakan pilihan realistis. Bahkan kata dia di Amerika Serikat, pemerintahnya telah meminta pabrik mobil Ford, General Motor (GM), dan pabrik turbin GE untuk memproduksi ventilator.
"Bahkan Israel Aerospace Industries (IAI) yang dikenal sebagai manufaktur dirgantara dan persenjataan diperintahkan ikut berperan serta melawan pendemi corona, di mana divisi produksi rudal di IAI dikonversi untuk memproduksi ventilator portable," kata dia. (tst/fea)