Sebanyak 79,9 persen siswa mengaku tak ada interaksi sama sekali kecuali memberikan tugas dan menagih tugas, tanpa ada interaksi belajar seperti tanya jawab langsung atau aktivitas guru menjelaskan materi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari siswa yang menyebut guru berinteraksi selama belajar dari rumah itu, komunikasi dilakukan menggunakan sarana pesan singkat atau aplikasi pesan 87,2 persen, zoom meeting 20,2 persen, video call WhatsApp 7,6 persen dan telepon 5,2 persen.
Kesulitan yang dihadapi siswa selama belajar di rumah, yakni 77,8 persen tugas menumpuk karena guru lain juga memberikan tugas, 42,2 persen tak memiliki kuota internet, 15,6 persen tak memiliki peralatan yang dibutuhkan, dan 37,1 persen waktu belajar yang sempit.
Dari survei ini, 76,7 persen responden menyatakan tidak senang belajar dari rumah, sementara 23,3 persen menyatakan senang.
Menurut 81,8 persen responden selama PJJ berjalan 4 minggu, para guru lebih menekankan pada sebatas pemberian tugas, bahkan jarang yang menjelaskan materi, diskusi ataupun tanya jawab.
Kemudian 43 persen responden ada pemberian materi dari guru dengan menggunakan aplikasi zoom meeting, sedangkan 17,9% ada tanya jawab, baik melalui aplikasi zoom maupun melalui WhatsApp dan video call. Sedangkan 11,3% responden menyatakan ada diskusi antara guru dan siswa.
Menurutnya, para siswa juga memberikan usulan dalam kegiatan belajar dari rumah ini. Di antaranya, 50,9 persen responden meminta kurangi tugas, sehari 1 saja dan penugasan menjawab soal cukup 5 soal.
Sebanyak 56,7 persen meminta guru jangan hanya memberikan tugas melulu, tetapi harus ada penjelasan secara daring. Kemudian 52,8 persen mengusulkan kepada pemerintah untuk menggratiskan internet, karena PJJ dengan daring membutuhkan kuota yang sangat besar.
Kebijakan belajar dari rumah diterapkan di sebagian besar daerah Indonesia sejak pandemi virus corona (Covid-19). DKI Jakarta menjadi provinsi pertama yang memutuskan melakukan kegiatan belajar dari rumah.