Menurutnya, persoalan tersebut terjadi dalam wilayah teknis, terkait dengan pengintegrasian data mengenai update korban yang bersifat dinamis.
"Perbedaan data itu tidak perlu didebatkan kembali. Integrasi data sudah terjadi dan akan terus ditingkatkan kualitasnya," kata dia dalam jumpa pers di Graha BNPB, Selasa (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber data itu, kata dia, berasal dari Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP). Kemudian DPJP memberikan laporan medik pada Pelayanan Medik rumah sakit tempat DPJP bertugas. Data forensik tersebut dibawa ke laboratorium Litbangkes untuk dilakukan pengujian.
"Di sana itu juga diverifikasi dan divalidasi," ucapnya.
"Nah di pusat data juga tidak sekadar menerima tapi memvalidasi juga supaya betul-betul clear," ucapnya.
Setelah melalui proses panjang tersebut, maka Jubir baru menyampaikan update data dalam 24 jam. Terkait sejumlah persoalan dalam perbedaan datanya, ia memastikan akan terus dilakukan peningkatan akurasi.
"Kata saya tidak ada kata terlambat untuk terus tangani sesuatu kebaikan. Integrasi data sangat dibutuhkan," kata Didik.
Diketahui, hingga Senin (28/4), jumlah pasien positif covid-19 di Indonesia mencapai 9.096 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 1.151 orang dinyatakan sembuh dan 765 orang meninggal dunia.
Sementara untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) tercatat ada 210.199 orang dan 19.987 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terkait covid-19 di Indonesia.
Kemenkes juga merinci data tersebut untuk setiap daerah. Namun terkadang angka yang disajikan berbeda dengan yang dimiliki daerah.
Data kasus positif untuk DKI Jakarta misalnya. Data kemenkes terbaru tercatat ada 3.798 kasus positif dan 353 meningggal. Namun data terbaru DKI Jakarta mencatat ada 3.950 kasus positif dan 379 orang meninggal.
(tst/mln/ain)