Pengacara publik LBH Jakarta, Rasyid Ridha menuturkan karantina wilayah, rumah sakit, hingga wilayah penting untuk mencegah penyebaran wabah pandemi virus Covid-19 antarruang dan wilayah.
"Pemerintah Pusat merampungkan dan mengesahkan Peraturan Pemerintah aturan pelaksana kebijakan Karantina Rumah, Karantina Rumah Sakit, dan Karantina Wilayah untuk memaksimalkan pencegahan penyebaran wabah pandemi virus Covid-19 antar satu ruang, wilayah ke ruang atau wilayah lainnya," ujar Rasyid dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di akun YouTube LBH Jakarta, Selasa (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasyid lebih lanjut menjelaskan, kebijakan karantina saat ini penting untuk menekan penyebaran virus. Sebab, berdasarkan kajian LBH Jakarta, rumah sakit di DKI berpotensi melebihi kapasitas jika lonjakan terus terjadi dalam 2-3 bulan ke depan.
Dijelaskan Rasyid bahwa perbandingan daya tampung rumah sakit di seluruh wilayah Jabodetabek bisa berpotensi melebihi kapasitas daya tampungnya.
Rasyid menjelaskan, menurut standar organisasi kesehatan dunia WHO, angka perbandingan jumlah tempat tidur rumah sakit per pasien mestinya 1:1.000. Artinya, per satu tempat tidur pasien digunakan untuk 1.000 penduduk.
Sementara, kata Rasyid, saat ini ada sekitar 400 rumah sakit di wilayah Jabodetabek. Berdasarkan hitungannya, perbandingan kapasitas tempat tidur dengan perkiraan 25 juta penduduk di Jabodetabek adalah 1:1.329.
Dengan demikian, Jakarta dan sejumlah wilayah di sekitarnya masih berada di atas standar WHO terkait daya tampung rumah sakit. Ini mengkhawatirkan karena lonjakan kasus positif Covid-19 berkisar 10 persen per hari.
"Sehingga jika tidak ada upaya penambahan Rumah Sakit, maka Jabodetabek tidak akan sanggup menampung seluruh pasien COVID-19 dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan," ujarnya.
Rasyid selain itu juga menyoroti jumlah alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga kesehatan saat ini. Kata dia, minimnya APD membuat banyak tenaga medis harus menggunakan jas hujan sebagai gantungan
"Dampaknya akan fatal bagi para tenaga medis, karena penggunaan APD yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko penularan virus kepada mereka. Hal ini terbukti dengan sekitar 170 tenaga medis yang sudah terpapar virus Covid-19," ujarnya. (wis/ryn/wis)