Komisioner Bidang Pengkajian dan Penelitian Covid-19 Komnas HAM, Choirul Anam menyatakan, tingkat keberhasilan PSBB itu ditentukan arus pergerakan orang. Oleh karenanya, menurut dia, penghentian sementara operasional KRL harus dipikirkan pula.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anam menegaskan terkait PSBB, pemerintah harus mengabdi pada aspek kesehatan, bukan ekonomi. Dengan demikian, persoalan penyebaran Covid-19 bisa segera diatasi agar ekonomi juga turut cepat pulih.
Oleh karena itu, menurut Anam, dalam hal ini pemerintah daerah lebih tahu kondisi internal wilayah dan warganya. Pemda, kata dia, memiliki otoritas dan tanggung jawab melindungi warganya.
Anam mengutip pernyataan Bupati Bogor Ade Yasin bahwa KRL merupakan media yang paling rentan dalam penyebaran Covid-19 antarwilayah se-Jabodetabek. Dengan demikian, mestinya penghentian KRL harus segera dilakukan.
"Agar ini cepat selesai, dan agar kita cepat memulihkan perekonomian dengan cepat. Kalau nggak memang akan sangat serius," katanya.
Komisioner Komnas HAM, M Choirul Anam. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma) |
Lihat juga:PSBB di Penyangga Ibu Kota Belum Maksimal |
Kesepakatan itu diambil saat lima kepala daerah tersebut menggelar rapat evaluasi penerapan PSBB tahap pertama di Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (26/4) lalu.
"Lima kepala daerah akan tetap mengusulkan kepada Kemenhub untuk menghentikan sementara KRL selama PSBB, atau paling tidak membatasi atau menutup stasiun tertentu dan menyeleksi orang-orang yang akan bepergian dengan menggunakan KRL," kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/4).
Kami lima kepala daerah akan tetap mengusulkan kepada Kemenhub untuk menghentikan sementara KRL selama PSBB," kata Bupati Bogor, Ade Yasin usai pertemuan kala itu. (thr/kid)
Komisioner Komnas HAM, M Choirul Anam. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)