Menurut prediksi BMKG, tiga provinsi tersebut memasuki kemarau pada bulan Juni hingga Juli. Pemerintah menyiapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC), berupa hujan buatan mulai Mei ini.
"Karena pada bulan tersebut potensi awan masih optimal untuk penyemaian garam untuk hujan buatan," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Agung Sugardiman kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (30/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TMC bakal dilakukan dengan pesawat CN 235 dengan bantuan TNI, bersama BPPT, BMKG, BNPB dan KLHK. Pesawat ini mempunyai kapasitas lebih besar dari pesawat yang dimiliki BPPT.
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono mengatakan hal serupa. Ia mendorong pihak korporasi untuk turut bertanggung jawab dalam pencegahan karhutla.
"Biaya TMC cukup besar, jadi harus dilakukan pada area prioritas yang terjadi karhutla berulang selama lima tahun terakhir. Sehingga lokasi turunnya hujan buatan hasil penyemaian awan bisa mencegah karhutla," ujarnya keterangan pers pada situs resmi KLHK, Selasa (28/4).
Berdasarkan data rekapitulasi karhutla pada situs SiPongi KLHK, luas lahan yang terbakar sampai pertengahan tahun 2020 ini mencapai 8.253 hektare. Rinciannya paling luas terjadi di Riau dengan 2.765 hektare terbakar, disusul Papua Barat dengan 1.419 hektare, Kalimantan Barat 770 hektar dan Kalimantan Tengah 725 hektare.
Sedangkan pada 2019, luas lahan yang terbakar mencapai 1.649.258 hektare. Angka ini melesat tinggi dari angka karhutla sejak tahun 2016. Namun belum melebihi luas karhutla tahun 2015, yakni 2.611.411 hektare.
Sumatera Selatan jadi lokasi dengan luas karhutla tertinggi di 2019, yakni 336.798 hektare. Disusul Kalimantan Tengah dengan 317.749 hektare, dan Kalimantan Barat 151.919 hektare. Sedangkan 90.550 hektare lahan terbakar di Riau tahun lalu. Di Jambi, lahan terbakar seluas 56.593 hektare. (ain/fey/ain)