Kepala Dinas Kesehatan Dharmasraya, Rahmadian menyebut ke-12 pasien tersebut semuanya lak-laki dengan beragam profesi, mulai dari petani, wiraswasta hingga pedagang. Mereka warga Kecamatan Koto baru, Kecamatan Asam Jujuhan, Kecamatan Pulau Punjung, Kecamatan Tiumang, dan Kecamatan Koto Besar.
"Hasil tes PCR-nya keluar (positif) di tanggal yang berbeda karena tanggal pengiriman sampelnya tidak sama. Ada yang hasil tesnya keluar pada 16 April, 18 April, 26 April, dan hasil terbaru keluar pada 1 Mei, 7 pasien," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rahmadian kemudian meminta petugas kesehatan melacak orang-orang yang melakukan kontak fisik dengan 12 pasien itu, terutama anggota keluarga mereka. Dinas Kesehatan Dharmasrayat telah mengirimkan sampel swab anggota keluarga 12 pasien yang positif itu dan hasilnya negatif.
Rahmadian mengatakan bahwa hampir semua pasien positif itu diisolasi di berbagai tempat isolasi yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Ada beberapa orang yang tidak mau diisolasi karena memilih isolasi mandiri di rumah.
Sejauh ini, kata Rahmadian, pihaknya mengirimkan 103 sampel ke Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Dari 103 sampel itu, 13 sampel positif, 61 sampel negatif, 29 sampel belum keluar hasilnya.
Sebelumnya pihaknya melakukan rapid test terhadap 204 orang. Sebanyak 38 orang di antaranya positif. Sampel 38 orang itu dikirim ke laboratorium Universitas Andalas untuk dites PCR.
Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Wabah Covid-19 Doni Monardo telah menyebut Ijtima Gowa merupakan klaster yang harus diwaspadai bisa menjadi episentrum penyebaran wabah Covid-19.
"Klaster yang diwaspadai menjadi epistentrum yakni Gowa, Jamaah tabligh dan pabrik," kata Doni saat melakukan konferensi pers di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (4/5). (ain/adb/ain)