Pernyataan itu merespon sejumlah kendala dan kesenjangan pendidikan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama wabah covid-19 atau virus corona.
"Tapi yang sudah pasti tanpa konektivitas, artinya internet dan listrik. Proses pemerataan pendidikan kita tidak mungkin tercapai. Itu minimum, konektivitas internet dan listrik dua hal pondasinya," ujarnya melalui konferensi video dikutip dari akun Youtube Kemendikbud RI, Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu butuh kolaborasi Kemendikbud dan kementerian lain, misalnya Kominfo," ujarnya.
PJJ dilakukan di sebagian besar daerah di Indonesia semenjak wabah corona melanda. Metode yang dilakukan tergantung kemampuan sekolah dan siswa, yakni bisa dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan.
Kemendikbud menyediakan program belajar di rumah melalui televisi dan radio. Ini dilakukan untuk memfasilitasi siswa yang tak punya fasilitas dan akses internet.
Namun kendala ketiadaan listrik masih dialami beberapa daerah. Misalnya terjadi di Papua. Melalui akun Facebook seorang guru honorer di Kabupaten Lanny Jaya, Maruntung Sihombing menyampaikan surat terbuka kepada Nadiem.
Ia menceritakan kondisi di sekitar rumahnya dan tempatnya mengajar. Aktivitas mengajar sehari-hari dilakukan hanya dengan tunjangan sinar matahari.
Maruntung mengatakan keterbatasan di wilayahnya makin menjadi di tengah wabah corona. Ia merasa pendidikan di wilayahnya tertinggal, terlebih jika PJJ dilakukan hingga akhir tahun.
"Pendidikan terpencil di Papua seperti mati suri. Dan saya yakin daerah-daerah terpencil seperti kami juga pasti merasakan seperti yang kami rasakan," katanya.