Ali menganggap foto dirinya dalam karung bansos yang diberikan kepada warga adalah hal yang wajar. Dia justru bertanya balik foto siapa yang lebih baik dipasang.
"Terus mau pakai foto apa? Kan ada logo pemprovnya di belakang. Kau sudah lihat karungnya? Kau pergi foto," kata Ali Mazi saat ditanya wartawan, Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masa kau tanya saya. Untuk apa? Publik untuk apa tahu? Mau tahu sembakonya atau masalahnya," tambahnya.
"Ini bukan cari popularitas, ini kita membuat tanda bahwa ini bantuannya dari pemerintah," jelasnya.
[Gambas:Twitter]
Sumber Logistik Tak Jelas
Berdasarkan data yang diperoleh CNNIndonesia.com, logistik yang dikumpul di Rumah Jabatan Gubernur Sultra berasal sumbangan dari warga Sultra dan beberapa perusahaan tambang. Namun, hal itu tidak diamini Pemprov Sultra.
"Saya bilang jangan persoalkan hal yang tidak penting. Kita ini mau bicara penanganan corona," kata Ali Mazi.
"Harus jelas datanya sumber bantuan itu dari mana saja. Jangan sampai, logistik dari warga lalu diklaim bantuan pemerintah yang juga dialokasikan dalam APBD. Ini harus dipisahkan," kata Kisran.
Sebelumnya, Pemprov Sultra dan DPRD menyepakati anggaran refocusing penanganan corona lewat APBD sebesar Rp 400 miliar. Anggaran itu dialokasikan untuk belanja alat pelindung diri (APD), fasilitas kesehatan dan logistik sebagai jaring pengaman di tengah pandemi.
"Tapi kalau dicampur aduk ini bahaya. Tidak ditahu berapa jumlah logistik yang dibiayai APBD dan sumbangan dari perusahaan atau perorangan," kata Kisran.
"Kita ingin penggunaan anggaran rakyat itu tidak dikorupsi. Pemerintah harus menjelaskan, dari mana sumber pembiayaan sablon dan karungnya. Sebab, gubernur mengklaim bahwa itu bantuan pemerintah. Kalau dari APBD, harus dijelaskan berapa dialokasikan untuk pengadaan karung dan sablonnya," jelasnya.
(pnd/bmw)